Riwanto Tirtosudarmo's blog

Politik terus bergulir di Jakarta

Jakarta terus menjadi epicenter pertarungan politik setelah keputusan bersejarah dari Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa Jokowi-JK adalah pemenag dari pemilihan presiden tahun 2014. Jokowi-JK akan disumpah sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia untuk periode 2013-2019 pada tanggal 20 Oktober 2014. Menyongsong datangnya pergantian pemerintahan beberapa peristiwa memanaskan politik di Jakarta. Ahok yang saat ini menjabat sebagai wakil gubernur akan menggantikan posisi Jokowi sebagai gubernur dan menjadikan posisinya yang kosong menjadi ajang rebutan partai-partai politik. Sementara itu, apa yang dinamakan Koalisi Merah Putih, rival dari Jokowi-JK sejauh ini belum menyatakan telah mengaku kalah seperti terlihat dari berbagai upaya politik yang dilakukan untuk mendelegitimasi presiden terpilih. Baca lebih lanjut.

Jokowi dan the Indonesian conundrum

Proses pemilihan presiden yang panjang dan intens akhirnya selesai dengan kemenangan di pihak Jokowi, gubernur Jakarta, dan wakilnya Jusuf Kalla. Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan dalam siding plenonya hari Selasa, 22 Juli 2014, setelah diselesaikannya penghitungan suara tepat sebelum matahari terbenam, dimana Jokowi-Jusuf Kalla memperoleh 53,15 persen dan saingannya Prabowo-Hatta mendapatkan 46, 85 persen, menyisakan beda yang signifikan, lebih dari 6 persen. Namun, tanpa diduga, sekitar tengah hari, Prabowo, tanpa kehadiran pasangannya Hatta, menyatakan penarikan dirinya dari proses pemilihan, dengan alasan proses pemilihan tidak adil dan cacat hukum. Langkah Prabowo yang tidak disangka-sangka ini jelas mendadak menimbulkan ketegangan dari banyak orang yang menonton televisi, meskipun yang menarik, KPU seperti tidak terpengaruh dan terus melanjutkan proses penghitungan suara. Baca lebih lanjut.

Ahok memimpin Jakarta, dan Jokowi diramalkan menjadi presiden !

Jakarta lolos dari "litmus test" ketika Ahok menjadi pelaksana tugas gubernur Jakarta. Meskipun peralihan tugas ini sudah diramalkan oleh masyarakat Jakarta peristiwa ini harus tetap dirayakan sebagai sebuah kemenangan bagi Jakarta yang inklusif. Ahok akan menjadi gubernur Jakarta yang mewakili sebuah minoritas ganda, Tionghoa Kristen, ketika nanti Jokowi memenangkan pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2014. Baca lebih lanjut.

Blusukan, sebuah gaya berpemerintahan yang baru?

Blusukan, adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa, yang oleh The Jakarta Post diterjemahkan sebagai impromptu visit, menjadi sangat populer setelah dipakai oleh Jokowi, gubernur Jakarta. Jokowi menggunakan kata itu untuk menggambarkan kegiatannya melakukan inspeksi langsung, seringkali tanpa sepengetahuan siapapun kapan dan kemana dia pergi, bahkan tanpa diketahui oleh staf dan wartawan yang selalu mengikuti geraknya. Kita kemudian mengetahui bahwa tujuan blusukan sesungguhnya adalah untuk melakukan komunikasi langsung dengan warga masyarakat, disamping adanya berbagai tujuan resmi lainnya, seperti untuk mencek implementasi sebuah proyek, mencek pelayanan publik yang diberikan olaeh kecamatan dan kelurahan, atau sekedar untuk melihat situasi di lapangan dan untuk mendengar langsung apa yang dikeluhkan oleh warga miskin di tingkat akar rumput. Baca lebih lanjut.

Banjir di Jakarta dan negara gagal di Indonesia

Di awal tahun Kuda, berdasarkan penanggalan Cina, Indonesia mendapat hantaman banjir yang dahsyat. Kombinasi berbagai faktor, terutama hujan yang tiada henti, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia; telah melumpuhkan tidak hanya Jakarta, ibukota negara, namun banyak tempat laindi Jawa dan pulau-pulau lainnya. Jakarta seperti biasa selalu menjadi pusat perhatian media karena banjir mencerminkan kinerja pemerintah kota dalam menangani masalah ini. Publik melihat disamping upaya habis-habisan dari Jokowi sebagai gubernur baru dalam mencegah dampak banjir namun upaya ini tampak tak berarti karena volume air yang mencapai puncaknya akibat hujan turun setiap hari di bulan Januari. Baca lebih lanjut.

Riset untuk aksi di Johar Baru, Jakarta Pusat

Jati Baru adalah sebuah kecamatan miskin dan padat penduduk di Jakarta Pusat. Kemiskinan, eksklusi social dan tawuran anak muda telah menjadi cirri-ciri umum dari komunitas kumuh ini. Didorong oleh keinginan untuk mencari jalan keluar dari masalah sisial yang akut ini beberapa orang staf pengajar dari departemen sosiologi Universitas Indonesia menyusun strategi berdasarkan temuan penelitian yang mereka lakukan tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses-proses yang bersifat sistemik dari penyakit sosial sebagaimana yang tercermin dari tawuran antar kelompok anak muda ini terjadi. Dengan asumsi bahwa fenomena tawuran adalah refleksi frustrasi terhadap aturan-aturan yang dipaksakan oleh otoritas formal di pilihlah sebuah pendekatan penelitian yang memanfaatkan metode kuantitatif dan kualitatif. Baca lebih lanjut.

Sebuah tes inklusivitas

Peristiwanya sederhana. Seorang lurah, perempuan dan beragama Kristen, yang baru diangkat, diprotes oleh sekelompok orang yang menganggap bahwa dia tidak tepat memimpin sebuah kelurahan yang mayoritasnya beragama Islam. Peristiwa ini terjadi di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, di ibukota Negara Republik Indonesia. Baca lebih lanjut.

Memugar dam, memindahkan penduduk dan meningkatnya popularitas Jokowi

Menyelesaikan masalah banjir rutin (dan kemacetan jalan) bisa merupakan tes akhir bagi setiap gubernur Jakarta. Sejak hari pertama di kantornya Jokowi dan Ahok telah menjadikan penanganan banjir sebagai prioritas utama. Mereka sangat menyadari dampak banjir yang dapat mematikan dan membuat Jakarta menjadi lumpuh. Diantara berbagai cara mengurangi dampak banjir adalah mengembalikan fungsi dam dam yang semula merupakan daerah penampungan air. Baca lebih lanjut.

Restoring dams, relocating people, and Jokowi's increasing popularity

Solving the problem of regular flooding (and traffic jams) could be the litmus test of any governor of Jakarta. Since the first day in office, Jokowi and Ahok have given top priority to resolving this flooding problem. They are very aware that the impact of flooding could be lethal and paralyzing for Jakarta. Among many other ways to reduce the impact of flooding, they are restoring the dams that were originally designed to be water catchment areas. Read more.

Menata-ulang sektor informal di Pasar Tanah Abang

Salah satu dampak yang tidak direncanakan dari kebijakan pembangunan ekonomi dan strategi rekayasa politik Orde Baru Suharto adalah fenomena menggelembungnya sektor informal di perkotaan. Secara akademik istilah sektor informal diperkenalkan pada tahun 1970an sebagai kelanjutan dari diskusi luas tentang isu-isu "urban bias" dan "why poor stay poor" argument utama dari Michael Lipton. Baca lebih lanjut.