Jakarta menikmati seorang gubernur yang terbuka

Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) sungguh-sungguh seorang reformis sejati. Dalam berbagai kesempatan, dia menunjukkan kesungguhan dan pandangannya yang terbuka, meskipun terkadang controversial, dalam sebuah masyarakat yang masih bersifat semi-feodal dan patron-klien masih berpengaruh pada hubungan-hubungan sosial. Sebagai seorang Tionghoa-Kristen yang merupakan minoritas dalam sebuah masyarakat yang didominasi Muslim, dapat dipahami keberanian dan advokasinya yang kuat terhadap toleransi agama sungguh patut dihargai. Gelombang protes dari FPI (Front Pembela Islam) yang menolak Ahok baik sebelum maupun setelah pelantikannya sebagai gubernur (19 November 2014) sekarang telah melemah. Baca lebih lanjut.

Jakarta di fajar 2015: Akselerasi pembangunan yang lebih inklusif?

Di blog terakhir saya menunjukkan dampak dari turbulensi politik nasional pada implementasi dari berbagai rencana terobososan pembangunan di Jakarta. Jika kita melihat apa yang terjadi dalam dua bulan terakhir, Desember 2014 dan Januari 2015, turbulensi politik pada tingkat lokal di Jakarta sepertinya membaik, sementara pada tingkat nasional terlihat justru memanas. Kita menyaksikan dibawanya beberapa anggota FPI yang melakukan demonstrasi menentang pelantikan Ahok sebagai gubernur Jakarta, yang berlangsung rusuh dan penuh kekerasan. Kita juga gembira Ahok telah memilih Djarot Syaiful Hidayat, mantan Bupati Blitar di Jawa Timur sebagai wakil gubernur. Djarot, kader PDIP, dianggap sebagai pemimpin daerah pro-rakyat yang berhasil yang dalam beberapa hal mirip Jokowi dalam menangani masalah pembangunan. Sungguh, paling tidak dalam dua bulan terakhir kita menyaksikan Djarot terbukti sebagaimana diharapkan oleh masyarakat, menangani persoalan secara langsung, dan melengkapi dengan baik gaya kepemimpinan Ahok yang cepat dan transparan. Baca lebih lanjut.

Ahok, gubernur Jakarta !

Pada hari Jumat, 14 November 2014, DPRD DKI Jakarta memutuskan mengangkat Ahok (Basuki Tjahaya Purnawa) sebagai Gubernur Jakarta. Dalam rapat tersebut anggota DPRD yang berasal dari koalisi partai pendukung Prabowo-Hatta tidak hadir. Terlihat dengan jelas bahwa persaingan politik terus berlanjut meskipun pemilihan presiden telah usai dan Jokowi (Joko Widodo) telah dilantik sebagai presiden oleh MPR pada tanggal 20 Oktober 2014. Sebelumnya sebagai gubernur dan wakil gubernur Jakarta, Jokowi dan Ahok, telah memperlihatkan ketidaklaziman "out of the box" kepemimpinan: "down to earth", menghadapi secara langsung setiap persoalan dan digunakannya dialog-empatis dengan orang-orang kebanyakan. Jokowi dan Ahok jelas telah dianggap sebagai musuh nomor satu bagi para politisi hipokrit di sebuah republic yang berpenduduk hampir 250 juta jiwa. Baca lebih lanjut.

Politik terus bergulir di Jakarta

Jakarta terus menjadi epicenter pertarungan politik setelah keputusan bersejarah dari Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa Jokowi-JK adalah pemenag dari pemilihan presiden tahun 2014. Jokowi-JK akan disumpah sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia untuk periode 2013-2019 pada tanggal 20 Oktober 2014. Menyongsong datangnya pergantian pemerintahan beberapa peristiwa memanaskan politik di Jakarta. Ahok yang saat ini menjabat sebagai wakil gubernur akan menggantikan posisi Jokowi sebagai gubernur dan menjadikan posisinya yang kosong menjadi ajang rebutan partai-partai politik. Sementara itu, apa yang dinamakan Koalisi Merah Putih, rival dari Jokowi-JK sejauh ini belum menyatakan telah mengaku kalah seperti terlihat dari berbagai upaya politik yang dilakukan untuk mendelegitimasi presiden terpilih. Baca lebih lanjut.

Jokowi dan the Indonesian conundrum

Proses pemilihan presiden yang panjang dan intens akhirnya selesai dengan kemenangan di pihak Jokowi, gubernur Jakarta, dan wakilnya Jusuf Kalla. Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan dalam siding plenonya hari Selasa, 22 Juli 2014, setelah diselesaikannya penghitungan suara tepat sebelum matahari terbenam, dimana Jokowi-Jusuf Kalla memperoleh 53,15 persen dan saingannya Prabowo-Hatta mendapatkan 46, 85 persen, menyisakan beda yang signifikan, lebih dari 6 persen. Namun, tanpa diduga, sekitar tengah hari, Prabowo, tanpa kehadiran pasangannya Hatta, menyatakan penarikan dirinya dari proses pemilihan, dengan alasan proses pemilihan tidak adil dan cacat hukum. Langkah Prabowo yang tidak disangka-sangka ini jelas mendadak menimbulkan ketegangan dari banyak orang yang menonton televisi, meskipun yang menarik, KPU seperti tidak terpengaruh dan terus melanjutkan proses penghitungan suara. Baca lebih lanjut.

Ahok memimpin Jakarta, dan Jokowi diramalkan menjadi presiden !

Jakarta lolos dari "litmus test" ketika Ahok menjadi pelaksana tugas gubernur Jakarta. Meskipun peralihan tugas ini sudah diramalkan oleh masyarakat Jakarta peristiwa ini harus tetap dirayakan sebagai sebuah kemenangan bagi Jakarta yang inklusif. Ahok akan menjadi gubernur Jakarta yang mewakili sebuah minoritas ganda, Tionghoa Kristen, ketika nanti Jokowi memenangkan pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2014. Baca lebih lanjut.

Blusukan, sebuah gaya berpemerintahan yang baru?

Blusukan, adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa, yang oleh The Jakarta Post diterjemahkan sebagai impromptu visit, menjadi sangat populer setelah dipakai oleh Jokowi, gubernur Jakarta. Jokowi menggunakan kata itu untuk menggambarkan kegiatannya melakukan inspeksi langsung, seringkali tanpa sepengetahuan siapapun kapan dan kemana dia pergi, bahkan tanpa diketahui oleh staf dan wartawan yang selalu mengikuti geraknya. Kita kemudian mengetahui bahwa tujuan blusukan sesungguhnya adalah untuk melakukan komunikasi langsung dengan warga masyarakat, disamping adanya berbagai tujuan resmi lainnya, seperti untuk mencek implementasi sebuah proyek, mencek pelayanan publik yang diberikan olaeh kecamatan dan kelurahan, atau sekedar untuk melihat situasi di lapangan dan untuk mendengar langsung apa yang dikeluhkan oleh warga miskin di tingkat akar rumput. Baca lebih lanjut.

Banjir di Jakarta dan negara gagal di Indonesia

Di awal tahun Kuda, berdasarkan penanggalan Cina, Indonesia mendapat hantaman banjir yang dahsyat. Kombinasi berbagai faktor, terutama hujan yang tiada henti, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia; telah melumpuhkan tidak hanya Jakarta, ibukota negara, namun banyak tempat laindi Jawa dan pulau-pulau lainnya. Jakarta seperti biasa selalu menjadi pusat perhatian media karena banjir mencerminkan kinerja pemerintah kota dalam menangani masalah ini. Publik melihat disamping upaya habis-habisan dari Jokowi sebagai gubernur baru dalam mencegah dampak banjir namun upaya ini tampak tak berarti karena volume air yang mencapai puncaknya akibat hujan turun setiap hari di bulan Januari. Baca lebih lanjut.

Riset untuk aksi di Johar Baru, Jakarta Pusat

Jati Baru adalah sebuah kecamatan miskin dan padat penduduk di Jakarta Pusat. Kemiskinan, eksklusi social dan tawuran anak muda telah menjadi cirri-ciri umum dari komunitas kumuh ini. Didorong oleh keinginan untuk mencari jalan keluar dari masalah sisial yang akut ini beberapa orang staf pengajar dari departemen sosiologi Universitas Indonesia menyusun strategi berdasarkan temuan penelitian yang mereka lakukan tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses-proses yang bersifat sistemik dari penyakit sosial sebagaimana yang tercermin dari tawuran antar kelompok anak muda ini terjadi. Dengan asumsi bahwa fenomena tawuran adalah refleksi frustrasi terhadap aturan-aturan yang dipaksakan oleh otoritas formal di pilihlah sebuah pendekatan penelitian yang memanfaatkan metode kuantitatif dan kualitatif. Baca lebih lanjut.

Sebuah tes inklusivitas

Peristiwanya sederhana. Seorang lurah, perempuan dan beragama Kristen, yang baru diangkat, diprotes oleh sekelompok orang yang menganggap bahwa dia tidak tepat memimpin sebuah kelurahan yang mayoritasnya beragama Islam. Peristiwa ini terjadi di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, di ibukota Negara Republik Indonesia. Baca lebih lanjut.