Menata-ulang sektor informal di Pasar Tanah Abang

Riwanto Tirtosudarmo

Salah satu dampak yang tidak direncanakan dari kebijakan pembangunan ekonomi dan strategi rekayasa politik Orde Baru Suharto adalah fenomena menggelembungnya sektor informal di perkotaan. Secara akademik istilah sektor informal diperkenalkan pada tahun 1970an sebagai kelanjutan dari diskusi luas tentang isu-isu “urban bias” dan “why poor stay poor” argument utama dari Michael Lipton.

Sebagai bagian dari strategi penjinakan dan penghilangan langsung kemungkinan ancaman dari “rural unrest” setelah gagalnya kudeta 1965 yang diduga diinspirasi oleh kelompok komunis pemerintahan militer Suharto mulai melakukan restrukturisasi lembaga-lembaga politik melalui apa yang dikenal sebagai kebijakan massa mengambang. Kebijakan ini bertujuan untuk mencerabut massa dari basis politiknya guna mentransformasi mereka menjadi sumberdaya manusia produktif. Kebijakan ini dilakukan berpasangan dengan introduksi revolusi hijau dimana intensfikasi dan mekanisasi pertanian adalah intinya.

Sejak awal tahun 1970an hingga akkhir tahun 1980an penduduk Jawa telah mengalami perubahan sosial secara besar-besaran dan mentransformasi secara signifikan daerah pedesaan maupun perkotaan. Dalam proses transformasi social ini migrasi desa-kota merupakan ciri utama yang pada akhirnya bermuara pada proses urbanisasi in kota-kota besar, terutama Jakarta.

Tidak terpenuhinya apa yang dijanjikan oleh teori-teori modernisasi tahun 1960an yang antara lain termanifestasi pada kegagalan sektor industri di perkotaan mengakomodasi pencari kerja baru terlihat secara jelas dalam menggelembungnya berbagai macam usaha jasa dan perdagangan kecil di kota yang secara keseluruhan dinamakan sektor informal.

Di Jakarta, kecuali pada masa Ali Sadikin, gubernur-gubernur selanjutnya umumnya gagal dalam membendung membengkaknya sektor informal. Sektor informal akhirnya menjadi sektor ekonomi besar yang lebih sering daripada tidak terkait secara longgar dengan sektor ekonomi formal. Sulit untuk dibantah bahwa jutaan penduduk miskin kota menggantungkan diri pada sektor informal. Tanah Abang yang terletak di jantung kota Jakarta mungkin merupakan pasar tekstil dan pakaian jadi terbesar di Asia Tenggara. Sektor informal berkembang sejalan dengan perkembangan pasar Tanah Abang dalam bentuk tenda-tenda yang dibangun sepanjang kaki-lima menjajakan berbagai produk dari pakaian sampai buah-buahan. Usaha parkir juga berkembang sepanjang jalan yang berakibat pada terganggunya lalu-lintas dan terjadinya kemacetan yang parah.

Adalah sesuatu yang logis saja jika Jokowi dan Ahok pada saatnya memberikan perhatian untuk menyelesaikan persoalan yang telah lama menumpuk di Tanah Abang. Selain melalui proses legal untuk menguasai kembali kepemilikan pasar tanah Abang dari tangan swasta ke pemerintah kota, Jokowi dan Ahok juga mulai melakukan negosiasi dengan para pedagang dan bos usaha parker dari sektor informal ini. Upaya ini terbkti merupakan pekerjaan yang tidak mudah bagi Jokowi dan Ahok karena tingginya resistensi dan berperannya para preman dan mafia yang bermain dibelakang bisnis yang sangat menguntungkan ini. Pendekatan secara langsung yang sudah terbiasa dilakukan melalui dialog terbuka dengan mereka yang terlibat adalah bagian dari strategi Jokowi yang terbukti ampuh untuk mendapatkan simpati dari masyarakat.

Sebagaimana dilaporkan oleh press proses negosisi ini saat ini terus berlangsung antara pemerintah kota dan wakil-wakil dari sektor informal di Tanah Abang. Karena taruhannya tinggi jika mereka kehilangan control terhadap bisnis sektor informal bos-bos sektor informal yang ternyata memiliki koneksi politik tingkat tinggi ini menggunakan berbagai cara, antara lain dengan memobilisasi massa untuk melakukan aksi protes dan upaya untuk membawa kasus ini ke pengadilan, menjadikan kasus Tanah Abang selalu menjadi headlines dan hanya mereda karena datangnya Hari Raya Lebaran Islam, 8-9 Agustus 2013, dimana Jakarta berubah menjadi lengang karena jutaan penduduknya pulang mudik ke desanya, umumnya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun demikian, Jokowi dalam kesempatan wawancara terakhir menyatkan optimismenya bahwa setelah lebaran ia merasa yakin penataan-ulang sektor informal di pasar Tanah Abang akan berhasil diatasi dengan baik.

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.