Memugar dam, memindahkan penduduk dan meningkatnya popularitas Jokowi

Riwanto Tirtosudarmo

Menyelesaikan masalah banjir rutin (dan kemacetan jalan) bisa merupakan tes akhir bagi setiap gubernur Jakarta. Sejak hari pertama di kantornya Jokowi dan Ahok telah menjadikan penanganan banjir sebagai prioritas utama. Mereka sangat menyadari dampak banjir yang dapat mematikan dan membuat Jakarta menjadi lumpuh. Diantara berbagai cara mengurangi dampak banjir adalah mengembalikan fungsi dam dam yang semula merupakan daerah penampungan air.

Salah satu dampak yang segera muncul dari kebijakan Jokowi memfungsikan kembali dam sebagai daerah penampung air di musim hujan adalah memindahkan penduduk yang bermukim secara tidak resmi di kawasan dam. Setelah berhasil memindahkan penduduk dari dam Pluit di Jakarta Utara saat ini Jokowi mengalihkan perhatian ked an Riorio di Jakarta Timur. Selain memindahkan penduduk dari kawasan dam pemindahan juga dilakukan pada penduduk yang bermukim di bantaran Sungai Ciliwung dan beberapa pemukiman kumuh seperti di Muara Angke di Jakarta Utara.

Dam Riario jauh lebih kecil dari dam Pluit namun tidak berarti masalahnya lebih sederhana. Seketika kebijakan untuk merestorasi dam dimulai pemerintah kota telah memberi informasi pada sekitar 350 keluarga yang akan dipindahkan ke rusunawa (rumah susun sewa) yang sedang disiapkan untuk mereka. Penolakan dari warga selalu terjadi dan negosiasi selalu merupakan tahapan yang kritis. Dalam kasus dam Riario terdapat sekelompok warga yang mengaku menempati tanah yang legal dan merupakan tanah milik keluarga Adam Malik – bekas wakil presiden zaman Suharto. Kelompok lain menyatakan memiliki sertifikat tanah yang sah. Kelompok ini bahkan mengadukan masalahnya ke Komisi Nasional Hak Azasi Manusia dan menuduh pemerintah kota telah melanggar hak-hak mereka.

Dalam menanggapi tuduhan-tuduhan ini Jokowi cukup menyerahkan (secara langsung, sendiri) semua bukti-bukti hukum bahwa tanah yang ada di kawasan dam adalah milik sah pemerintah kepada Komisi Nasional Hak Azasi Manusia. Respon seperti ini memperlihatkan bahagimana Jokowi (dan Ahok) selalu mendasarka kebijakan-kebijakannya pada hokum dan peraturan yang berlaku. Dalam kaitan ini sangat menarik mengutip bagaimana Ahok selalu mengatakan bahwa sebagai pejabat Negara yang dia utamakan adalah konstitusi bukan konstituen.

Proyek dam Pluit telah berhasil dengan baik mengembalikan fungsi dam dan menjadikan kawasan itu ruang public yang hijau. Penduduk juga akhirnya berhasil direlokasi ke rusunawa yang disubsidi pemerintah. Masyarakat luas telah melihat sendiri bagaimana Jokowi berhasil merubah kawasan kumuh menjadi taaman kota yang indah dimana setiap orang dapat menikmati udara yang segar. Jokowi sangat optimis bahwa Riario akan mengikuti pengalaman Pluit. Dia percaya bahwa yang diinginkan oleh warga adalah bukti nyata dan dipenuhinya janji-janji. Meskipun saat iniwarga di Riario masih belum menerima tawaran untuk pindah Jokowi sangat yakin bahwa masalah ini akan selesai ketika rusunawa Pinus Elok siap menampung mereka. Untuk memudahkan transportasi bagi penghuni Pinus Elok pemerintah kota juga telah mengatur agar angkutan kota melintasi Pinus Elok.

Ketika masyarakat menyaksikan Jokowi telah membuktikan diri berhasil merealisasikan kebikan-kebijakannya Jokowi dalam waktu singkat menjadi tokoh publik yang paling populer seperti diperlihatkan oleh berbagai survey pooling yang diadakan untuk meranking calon yang paling akseptabel di pemilihan presiden tahun depan. Popularitas Jokowi dan tarikan ikut ajang pemilihan presiden agak mengkhawatirkan sebagian orang yang berpikir bahwa Jokowi harus mengkonsentrasikan tenaganya untuk menyelesaikan persoalan Jakarta. Sebagian orang ini tahut jika Jokowi jadi presiden – dan tampaknya itu yang akan terjadi – tidak ada lagi orang yang peduli dengan Jakarta.

Jokowi sangat mengerti adanya dilemma ini, namun dia tidak akan bisa bertahan jika pada akhirnya dia akan dicalonkan oleh partainya sebagai kandidat presiden 2014. Meskipun dia sering berkata bahwa dia tidak memikirkan dirinya menjadi presiden dan berpendapat bahwa dia hanya berpikir untuk menyelesaikan persoalan Jakarta dalam beberapa kesempatan dia secara tidak langsung mengatakan bahwa persoalan Jakarta tidak mungkin diselesaikan oleh Jakarta sendiri karena tingkat pemerintahan yang lebih tinggi diperlukan untuk mengurus Jakarta. Sebagian orang mulai juga berpikir jika Jokowi menjadi presiden dia justru akan memiliki posisi yang lebih baik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan Jakarta.

Karena media terus menerus memberitakan apa yang yang dilakukan setiap orang juga mengetahui bahwa keputusan ada ditangan ketua partainya, Megawati Soekarnoputri. Sejauh ini memang belum ada keputusan itu, namun dengan semakin besarnya tekanan public tampaknya tidak ada pilihan lain bahwa Jokowi pada saatnya pasti akan menjadi calon presiden untuk 2014.

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.