Banjir di Jakarta dan negara gagal di Indonesia

Di awal tahun Kuda, berdasarkan penanggalan Cina, Indonesia mendapat hantaman banjir yang dahsyat. Kombinasi berbagai faktor, terutama hujan yang tiada henti, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia; telah melumpuhkan tidak hanya Jakarta, ibukota negara, namun banyak tempat laindi Jawa dan pulau-pulau lainnya. Jakarta seperti biasa selalu menjadi pusat perhatian media karena banjir mencerminkan kinerja pemerintah kota dalam menangani masalah ini. Publik melihat disamping upaya habis-habisan dari Jokowi sebagai gubernur baru dalam mencegah dampak banjir namun upaya ini tampak tak berarti karena volume air yang mencapai puncaknya akibat hujan turun setiap hari di bulan Januari.

Sebagaimana secara terusmenerus diberitakan jumlah korban dan wilayah yang terkena banjir di Jakarta saja secara dramatis meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jokowi dan Ahok, gubernur dan wakil gubernur telah memimpin Jakarta lebih dari setahun sejak mereka dilantik November 2012. Penampilan mereka yang segar dan bagaimana mereka menangani problem-problem akut Jakarta tentang macet dan bajir tanpa bisa disangkal telah menarik perhatian dan simpati dari masyarakat. Popularitas mereka naik dengan pesat, dan Jokowi hakan telah menjadi ikon nasional yang secara konsisten berada diurutan teratas dari berbagai survey tentang siapa yang pantas menjadi presiden terpilih pada buklan Juni tahun ini. Dampak banjir kali ini yang diluar dugaan sungguh-sungguh menjadi tes bagi Jokowi dan Ahok bagaimana mereka bertindak sebagai respons terhadap tantangan yang sangat berat ini. Seperti biasa pasangan ini berusaha menangani masalah-masalah secara rasional dan tepat waktu tanpa terjebak pada respon yang tidak perlu pada krtik-kritik yang tak berdasar dari lawan-lawan politik mereka.

Banjir tampaknya tidak hanya melumpuhkan Jakarta namun juga berpengaruh besar pada berbagai tempat di Jawa. Air telah menenggelamkan jalan aspal sepanjang pantai utara Jawa yang berakibat pada lebih dari seminggu terhentinya perekonomian karena jalan merupakan penghubung utama ekonomi dari negeri ini. Naiknya permukaan air laut dan tidak terbendungnya air yang datang dari gunung yang telah gundul melalui sungai-sungai yang dangkal hanya menunjukkan kegagalan negara dalam melindungi lingkungan yang rawan di Jawa. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan dimana pulau Jawa yang hanya memiliki luas tujuh persen dari luas seluruh tanah di Indonesia dan harus menyangga beban dari enampuluh persen penduduk Indonesia yang sebentar lagi akan mencapai 240 juta jiwa. Dalam literature Jawa merupakan kasus klasik tentang bagaimana kebijakan negara, ekonomi pasar dan kerusakan lingkungan secara bersamaan berpengaruh terhadap masyarakat petani sepanjang waktu.

Sangat jelas bahwa sejak awal tahun 1970an pembantunan politik-ekonomi Indonesia menjadi sangat terpusat di Jawa, terutama sepanjang pantai utara dimana Jakarta menjadi “epicenter’ dari keseluruhan pembangunan ekonomi dan politik, diikuti oleh Suraba ya di timur dan Semarang di tengah. Kota-kota sepanjang pantai utara Jawa telah menjadi koridor perkotaan terhubungkan oleh jalan aspal yang pertama kali dibangun oleh Gubernur Jendral Belanda Hendrik Willemm Daendels tahun 1808-1811. Jalan aspal yang menghubungkan Anyer dan Panarukan yang membentang lebih dari seeribu kilometer ini dkenal sebagai Jalan Daendels yang secara paradox menjadi poros ekonomi yang bertentangan denganrealitas geografis Indonesia yang seharusnya merupakan negara maritim.

Dominasi transportasi darat, terutama pada koridor perkotaan sepanjang pantai utara Jawa mencerminkan musnahnya ekonomi maritim antarpulau yang terbukti rapuh dengan perubahan ekologis yang ada. Banjir kali ini mennjukkan secara jelas kerapuhan ekonomi Indonesia yang terpusat secara kuat di kota-kota di pantai utara Jawa, khususnya Jakarta. Terus berlangsungnya aglomerasi perkotaan sungguh merupakan dampak dari kegagalan negara dalam mengontrol pasar yang cenderung membangun infrastruktur ekonomi hanya di Jawa. Pulau-pulau lain di luar Jawa terus menjadi tempat industri ekstraktif khususnya pertambangan dan kehutanan yang hanya menguntungkan segelintir orang dan secara cepat merusak lingkungan.

Dalam kaitan ini upaya habis-habisan Jokowi dan Ahok dalam menangani dampak yang dahsyat dari banjir di Jakarta sudah pasti akan terlihat sebagai keberhasilan yang terbatas karena Jakarta sesungguhnya hanya merupakan puncak gunung es dari pesoalan-persoalan pembangunan yang akut di negeri ini.

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.