Blogs

Select one or more of the blogs above, then click Apply.

Site Visit to Alam Sutera

The last day of the New Cities Summit included a visit to Alam Sutera, a residential and commercial development zone 15 km outside Jakarta. When the development started in 1994, the area was considered remote, but due to Jakarta's dramatic expansion and the toll road access that opened in 2009, Alam Sutera is now a bustling town of its own. Alam Sutera includes high-end housing "clusters," mid-range apartment buildings, a sports center, a hospital, a school, and numerous stores and malls, including Indonesia's first IKEA and the largest Ace Hardware in the world. Read more.

Kota Menengah

Konsep 'secondary city' mengacu pada kota-kota yang lebih kecil dibandingkan kota utama atau perluasan dari kota pertama. Jumlah kota menengah yang kian meningkat ini akan bertanggung jawab terhadap proses urbanisasi yang kian berkembang. Mengenai bagaimana kota-kota mempersiapkan diri menghadapi dan menggunakan kesempatan dalam proses urbanisasi di bahas dalam salah satu Panel Paralel New Cities Summit yang dihadiri oleh Walikota Makasar, direktur perusahaan konstruksi India dan pusat pengembangan kota di Cina serta moderator Parag Khanna dari Hybrid Reality. Baca lebih lanjut.

Jakarta Urban Challenge winners announced

The Jakarta Urban Challenge is "a USD $20,000 contest championing the most effective solutions to mobility and traffic problems in Jakarta, one of the world’s most congested cities." Organized by the New Cities Foundation and Connect4Climate, the competition opened on March 16th and ended on April 30th, 2015, receiving 226 proposals. Through a rigorous judging process, the following three finalists were selected. Read more.

RagamKota – Perbedaan sebagai aset kota

Pada hari kedua acara New Cities Summit diramaikan oleh panel dalam forum bertema Divercity: Difference as an urban asset dengan empat narasumber yang berasal dari Amerika, Jepang dan Indonesia. Hiro Ichikawa adalah Eksekutif Direktur dari Mori Memorial Foundation, Meiji University Jepang. Hiro menjelaskan lebih jauh mengenai Global Power City Indeks (GPCI) yang menilai kota-kota besar di dunia berdasar kemampuan mereka untuk menarik orang-orang dan bisnis kreatif dari seluruh dunia. Empat puluh kota besar dinilai berdasar 70 indikator dalam enam fungsi utama yaitu Ekonomi, R&D, Interaksi budaya; lingkungan; 'Livability'; dan Aksesibilitas. Menurut GPCI lima kota tertinggi dalam indeks ini adalah London, New York, Paris, Tokyo dan Singapore. Baca lebih lanjut.

Jakarta Urban Challenge

Jakarta Urban Challenge merupakan salah satu rangkaian aktivitas menjelang pelaksanaan New Cities Summit di Jakarta. New Cities Foundation bersama dengan Connect4Climate memberikan total hadiah USD 20.000 bagi innovator muda Indonesia untuk memberikan solusi terbaik terhadap permasalahan mobilitas dan lalu lintas Jakarta. Kompetisi ini sendiri dibuka sejak tanggal 16 Maret hingga 30 April 2015 untuk perorangan maupun kelompok dan berhasil menjaring sebanyak 226 pendaftar. Dengan proses penjurian yang ketat akhirnya terpilih 3 finalis yaitu: Baca lebih lanjut.

Muhammad Yunus: Redesign economics to redesign the world

Muhammad Yunus' keynote speech was one of the main highlights of the New Cities Summit. His speech was about the concept of a social business, which he defines as a non-dividend company working to solve a human problem. One of the reasons Professor Yunus finds this model compelling is that the money invested is returned and can then be reused, whereas with a charity, the money can only be used once. Social businesses are also an important answer to unemployment: Professor Yunus counsels young people to become entrepreneurs instead of seeking jobs. Read more.

Mengurai Kemacetan — Solusi untuk Mobilitas Perkotaan

Sesi diskusi parallel kedua bertema Unclocking the Grid : Solutions for Urban Mobility dengan pembicara yang lebih bervariasi dari universitas, perusahaan taxi dan pemerintah. Sesi ini membahas lebih jauh mengenai kemacetan sebagai tantangan utama perkotaan. Moderator Greg Lindsay menggarisbawahi kondisi Jakarta yang kian parah kemacetannya dan tampaknya belum terlihat solusi nyata. Greg memberikan pertanyaan dasar kepada Soetanto Soehodho, Deputi Gubernur dari Kementerian Perdagangan, Industri dan Transportasi Kota Jakarta mengenai mengapa Jakarta sampai menjadi seperti sekarang. Menurut Soetanto hal ini dikarenakan Jakarta menjadi kota yang sangat tergantung kepada kendaraan pribadi. Terbukti tiap harinya terdapat 300 unit mobil baru dan 1000 sepeda motor baru memadati jalanan, sedangkan jumlah jalanan dan infrastruktur lain tidak bertambah. Namun demikian Soetanto setuju bahwa hak masyarakat akan transportasi umum yang bagus dan murah harus dipenuhi. Baca lebih lanjut.

Kota dengan Banyak Kesempatan — Studi Kasus Jakarta

Diskusi paralel panel pertama dalam acara New Cities Summit bertemakan City of Opportunity: Case Study on Jakarta dan dimoderatori oleh Joe Cochrane, koresponden International New York Times untuk Indonesia. Panel diisi oleh empat narasumber, dua dari pemerintah yang mewakili Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGuPP) DKI Jakarta dan Kementerian PU. Sedangkan dua pembicara lain mewakili lembaga swasta yaitu dari Bubu.com dan Owings and Merrill LLP. Ibu Sarwo Handayani yang mewakili kota Jakarta menyampaikan bahwa sebenarnya Jakarta memiliki banyak kesempatan dan pada saat yang sama menemui lebih banyak tantangan. Menurutnya, Jakarta telah memulai pembangunan secara ekstensif misalnya daerah waterfront dengan proses reklamasinya, mendorong penggunaan teknologi/ICT, menerapkan konsep smart city, dan bekerjasama dengan sektor swasta dalam hal pembangunan infrastruktur perkotaan. Baca lebih lanjut.

Water solutions for the 21st century

Nick Clark, Environmental Editor at Al Jazeera English started this discussion by asking each panelist to describe some of the main urban water challenges in each of their local contexts. Carla May Berina-Kim, the Executive Director of the Manila Water Foundation, explained that in Manila, illegal water connections lead to quality issues, and that while water coverage is fairly good, only a third of the city has coverage when it comes to sewage. Lack of sewage infrastructure — the result of poor urban planning — is a main cause. Koen Broersma, a Consultant of Urban Water Management at Royal HaskoningDHV described the situation here in Jakarta: water supply is lacking, causing residents to use wells and pumps, which then causes subsidence (land sinking) and flooding. Untreated wastewater flooding to the sea is another major concern. Roch Cheroux, the CEO South East Asia at Suez Environnement explained that in Australia, the driest continent, lack of water is a challenge, as is affordability — utilities are not run efficiently, so costs are high. Also, Australia’s water infrastructure is old, and renewing it would be costly. Finally, Aziza Chaouni, Founding Principal at Aziza Chaouni Projects, indicated that in Morocco, too, lack of water is an issue — especially since agriculture, a major source of income for Moroccans, requires heavy water use. Read more.

Greg Lindsay — The Urban Moment

The New Cities Summit in Jakarta started with a keynote presentation by Greg Lindsay, Senior Fellow, Mobility Initiative at the New Cities Foundation. Mr. Lindsay emphasized the fact that the urban century is largely an Asian phenomenon, and that it is just getting started: many Asian countries such as India and Vietnam still have urbanization rates well below 50 percent. However this is changing quickly — within a few decades, the landmass of cities worldwide will triple, representing an astounding acceleration of urbanization. Mr. Lindsay represented this challenge of urbanization as a "wicked problem," meaning that it cannot be solved, just managed. Mr. Lindsay concluded by highlighting a number of important challenges facing cities, notably transportation. He cited Mitchell L. Moss's study showing that in New York City, transportation is the primary factor determining access to job opportunities: "Having a transit card is more important than having a college education."