Partisipasi dan pembangunan kembali rusunawa

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager

Surabaya merupakan kota Metropolitan terbesar kedua di Indonesia yang memiliki magnet penarik bagi penduduk daerah penyangga terutama wilayah perdesaan di sekitarnya. Seiring waktu, dengan makin bertambahnya jumlah penduduk alami dan pendatang maka Surabaya menjadi kota yang sangat padat dan bermunculanlah perkampungan kumuh dan kebutuhan untuk perumahan kian meningkat. Menurut data Pemkot Surabaya, kebutuhan lahan perumahan tahun 20013-2013 mencapai 17.593 Ha (53,8% dari total luas Surabaya) dengan jumlah kebutuhan permukiman mencapai 556.542 unit. Pembangunan rumah susun sebagai alternative hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah telah dilaksanakan oleh Pemkot Surabaya beberapa tahun terakhir. Namun demikin keberadaan rusun paska huni cenderung menjadi kumuh dan menambah kekumuhan lingkungan. Oleh karenanya terdapat dua kebijakan terkait yang kini dilaksanakan yaitu pembangunan kembali rusun dengan konsep re-development dan kerjasama dengan kementerian untuk pemberdayaan masyarakat di kampung kumuh.

Seringkali kebijakan pemberian rumah susun terhenti ketika pemerintah selesai membangun rumah tersebut, padahal banyak permasalahan muncul ketika mereka menghuni rusun. Beberapa permasalahan yang muncul seperti rusun menjadi kumuh karena kurangnya rasa memiliki yang berakibat tidak adaknya kesadaran untuk memelihara, kegaduhan, minimnya ruang privat dan adanya kesulitan merubah kebiasaan hidup dari rumah biasa (landed housing) ke rumah vertical atau rusun. Munculnya permaslahan ini sering tidak diantisipasi dan luput dari perhatian pemerintah padahal tujuan awal dari pembangunan rusun adalah untuk meningkatkan taraf hidup penghuni, namun kenyataannya banyak yang makin terpuruk.

Menghadapi tantangan tersebut Pemkot Surabaya kini melakukan perbaikan rusun yang bertujuan meningkatkan kualitas penghuni rusunawa dengan konsep re-development yang menekankan pada partisipasi penghuni, lokasi yang dekat dengan sumber penghidupan dan tetap mempertahankan struktur sosial yang sudah ada. Konsep redevelopment ini telah diterapkan di Rusun Urip Sumoharjo. Dalam proses re-design ini maka dilakukan pendekatan yang intensif untuk menggali aspirasi penghuni sebab mereka yang paling tahu apa yang mereka butuhkan dan apa yang sesuai dengan lingkungan mereka. Kegiatan ini memang diperuntukkan bagi penghuni lama dengan memperbaiki kondisi fisik bangunan dan meningkatkan fasilitas umum dan ruang terbuka bersama. Salah satu kelebihan dalam design rusunawa ini adalah gedung dibangun tidak model berjajar tapi dibuat setengah melingkar dengan ruang terbuka di tengah sebagai ruang bersama. Bentuk ini sendiri merupakan apa yang diinginkan warga dan terwujud dalam desainnya. Untuk selanjutnya redevelopment ini akan diaplikasikan untuk rusunawa lain di Kota Surabaya.

Kebijakan redevelopment ini sendiri akan dikombinasikan dengan program pemberdayaan masyarakat di kawasan permukiman kumuh untuk alasan kemandirian ekonomi dan kemampuan penataan daerahnya. Program ini bekerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional yang memberikan penyuluhan mengenai pertanahan dan pentingnya legalisasi tanah dan pembentukan kelompok masyarakat sadar dan tertib pertanahan (Pokmasdartibnas). Dari berbagai sisi peran warga di daerah kumuh sangat didorong karena bentuk bantuan dan pendampingan tidak akan berhasil tanpa partisipasi aktif mereka.

Foto: nesya anggi puspita

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1407
Permalink to this post: http://urb.im/ca1407sui