Surabaya sebagai Kota Pintar (Smart City)

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 12 September 2014

Kota Surabaya meraih satu lagi penghargaan yaitu Smart City Award dari Majalah Warta Ekonomi dan Warta e-GOv. Penghargaan ini ditujukan bagi kabupaten atau kota yang telah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka menciptakan kota pintar. Surabaya mendapatkan tiga dari empat penghargaan, yaitu Smart Governance, Smart Living dan Smart Environement. Surabaya juga merupakan pionir dalam menerapkan Smart City. Dengan kesadaran bahwa sebuah kota berkewajiban memberikan pelayanan terbaik maka dirintis pemanfaatan teknologi terkini dan infrastruktur yang pintar.

Sebagai kota besar kedua, permasalahan kepadatan penduduk menjadi tak terelakkan. Untuk itu Kota Surabaya telah bertekad untuk melakukan pembangunan dan manajemen kota yang lebih baik, salah satunya dengan menerapkan konsep Smart City ini. Secara umum, Smart city diartikan sebagai sebuah kota yang mampu memanfaatkan sumber daya manusia, modal sosial dan infrastruktur komunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang baik dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat.

Manajemen kota dalam kerangka Smart City yang dilakukan Surabaya dilaksanakan dalam 4 tahapan yaitu : (1) Tahap Pembenahan Internal Pemerintah; (2) Tahap Penguatan Modal Sosial; (3) Tahap Pengembangan Layanan eksternal Pemerintah; dan (4) Tahap Pengembangan Layanan Kota Berbasis Teknologi Tinggi. Untuk Tahap pertama telah dimulai sekitar tahun 2003 hingga 2005. Pembenahan internal pemerintahan menjadi fokus utama akibat adanya krisis kinerja pegawai pemerintah kota. Upaya yang dilakukan adalah peningkatan kapasitas dan kinerja pegawai pemerintah serta dimulainya pemanfaatn teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di dalam system pemerintahan. Tahap kedua dilaksanakan tahun 2006-2008 dan dimaksudkan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan menyiapkan masyarakat agar bisa memanfaatkan TIK. Pada tahap kedua ini aktivitas yang dilakukan diantaranya adalah pembentukan fasilitator kampung, peresmian kampung-kampung unggulan, pembangunan Broadband Learning Center (BLC) agar masyarakat mulai melek teknologi.

Tahap ketiga adalah pengembangan layanan eksternal pemerintah (2009-2010). Fokus pada tahap ini adalah pada pengembangan pelayanan publik, dalam hal ini yang dikembangkan adalah pelayanan publik bidang pendidikan melalui aplikasi Digischool, internet gratis kepada masyarakat dan pemanfaatan media sosial untuk diseminasi informasi. Tahap keempat yaitu Pengembangan Layanan kota berbasis teknologi tinggi. Pada tahap dimulai dengan pemanfaatan teknologi yang lebih canggih seperti penggunaan sensor dalam system transportasi cerdas (SITS), pengembangan system SEARS (Surabaya Early Warning System), dan pengolahan sampah menjadi energy.

Konsep smart city juga mendorong adanya partisipasi luas masyarakat. Dalam implementasinya, terdapat beragam aktor yang turut berperan di tiap-tiap program pembangunan selain pemerintah kota Surabaya sendiri, seperti pihak swasta dengan bantuan investasi dan pembangunan fisik; Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan bantuan berupa pendampingan untuk program-program yang dijalankan; dan media massa sebagai alat kontrol program dan membantu diseminasi informasi.

Secara keseluruhan, pendekatan holistik yang dilakukan telah mencakup enam dimensi smart city sebagaimana disyaratkan oleh Griffinger (2007): smart economy, smart people, smart governance, smart mobility, smart environment and smart living. Pendekatan dilakukan secara perlahan namun pada semua dimensi. Tahapan smart city merupakan proses yang berkelanjutan sehingga partisipasi aktif masyarakat serta kemauan untuk belajar masyarakat akan menjadi dukugan utama bagi Surabaya menuju Smart City.

Foto: kalmet

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1409
Permalink to this post: http://urb.im/ca1409sui