Pemulangan pendatang ilegal untuk menekan laju urbanisasi Jakarta

Go-Jek dan solusi kemacetan Jakarta

Setiap hari penduduk Jakarta pasti bergelut dengan kemacetan. Dari pagi hingga malam hari. Fenomena ini terjadi tidak saja terjadi di hari kerja namun juga ketika akhir pekan. Berangkat dan pulang kerja bisa menjadi rutinitas yang menyakitkan bagi sebagian besar pegawai perkantoran di Jakarta. Berada tiga sampai empat jam di jalanan adalah hal yang lumrah. Salah satu alternative angkutan yang mudah adalah ojek (motor taxi). Menjadi tukang ojek sendiri adalah lapangan kerja yang muncul karena kemacetanan jalanan kota ditambah harga sepeda motor yang murah dan bisa dicicil sehingga jumlah ojek sendiri mencapai ribuan tersebar di setiap sudut kota. Keberadaan ojek memang membantu orang mengurangi waktu perjalanan mencapai tempat tujuan, namun tidak sedikit ojek menimbulkan masalah dikarenakan tarif yang tidak standard dan aspek keselamatan kurang dieprhatikan. Namun kini telah hadir Ojek professional dengan melalui tiga pilar utama : inovasi, kecepatan dan social impact-nya memberikan kenyamanan lebih dan tawaran keselamatan yang lebih baik bagi penumpang dan pada saat yang sama menambah pendapatan tukang ojek.

Semakin lama kemacetan di Jakarta semakin sulit untuk dikendalikan. Menurut data DItlantas Polda Metro Jaya, tahun 2013 jumlah total kendaraan yang lalu lalang di ibukota mencapai lebih dari 16 juta unit. Dengan tren yang terus meningkat dan fakta bahwa tidak ada penambahan luas jalan, maka bisa dipastikan kemacetan makin sulit diatasi. Situasi tersebut memberikan kesempatan kerja bagi tukang ojek, apalagi banyak titik kemacetan yang belum terjangkau.

Ojek menjadi alternatife favorit masyarakat untuk membawa mereka menuju tempat kerja. Namun demikian ada banyak keluhan dari masyarakat yang menganggap bahwa ojek sering menyulitkan karena cara menyetir mereka yang asal-asalan, helm yang berbau dan harga yang sering berubah dan aspek keselamatan kerap diabaikan.

Melihat fenomena ini, dan kesempatan untuk membantu tukang ojek yang ternyata banyak yang menganggur ketika berada di pangkalan tanpa pelanggan, Nadiem Makarim bersama dua temannya memulai bisnis ojek professional multiservis bernama Go-Jek. Go-Jek dimulai tahun 2010 yang menawarkan bukan hanya kebutuhan untuk transportasi cepat tapi juga layanan lain yang tidak biasa diberikan ojek lain pada umumnya seperti mengantar jemput dokumen, mengambil laundry, membeli makanan hingga pengambilan visa ke konsulat.

Keberadaan Go-Jek memberikan bukan hanya rasa aman dan nyaman kepada penumpang namun juga kepercayaan konsumen terhadap harga yang pasti dan kepercayaan bahwa mereka bisa mempercayakan kebutuhan mereka. Model pemesanan pun mudah, cukup melalui call center dengan menyebutkan tujuan dan harga akan segera dikalkulasi oleh system bukan atas dasar tawar menawar.

Yang lebih menarik adalah Go-Jek menggandeng tukang ojek yang sudah ada di pangkalan untuk bergabung sehingga Go-Jek tidak harus membeli ratusan motor apalagi sampai mengambil lahan ojek yang sudah ada. Mereka direkrut dan diberikan training. Jika dalam perjalanannya mereka melakukan pelanggaran, maka Go-jek akan melepas mereka. Komisi juga akan diberikan sebagai tambahan penghasilan dan Go-Jek juga akan memastikan adanya pemerataan distribusi pekerjaan. System ini bekerja lebih baik sebab tidak ada tukang ojek yang menganggur di pangkalan saat sepi order dan mereka menjadi lebih tertib dalam beroperasi.

Foto: yropian

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1410
Permalink to this post: http://urb.im/ca1410jki