Menjadi operator telepon untuk menambah modal

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 10 Desember 2014

Sektor informal Indonesia memiliki tiga ciri utama yaitu kegiatan usaha yang tidak terorganisir dari sisi lokasi maupun jam kerja; minimnya pemakaian teknologi sebagai bagian dari inovasi produk; dan sumber dana sebagai modal usaha yang minim. Para pelaku usaha dalam ekonomi informal ini umumnya adalah pedagang kaki lima, pedagang keliling, pemilik warung kecil dan pedagang asongan. Sektor informal berkembang pesat di Jakarta karena sektor ini begitu mudah dimasuki tanpa membutuhkan skill sebagaimana dalam sektor ekonomi formal. Hingga kini belum banyak sektor keuangan formal yang bisa menjangkau masyarakat miskin perkotaan ini. Namun demikian PT Ruma telah membantu ribuan pengusaha mikro perkotaan untuk mengembangan usaha mereka dengan mengenalkan pada teknologi telekomunikasi melalui program Waralaba Mikro Telepon Desa dan berbagai inovasi program lainnya.

Jumlah pekerja sektor informal Jakarta mencapai lebih dari 1,5 juta orang. Para pedagang kecil ini kerap memenuhi sudut Jakarta dan dihadapkan pada kesulitan memperoleh modal. Bantuan untuk pengembangan usaha mereka juga minim. Keberadaan Ruma merupakan angin segar bagi para pemilik usaha kecil ini. PT Ruma merupakan lembaga usaha bermisi sosial (social enterprise) yang memberikan bantuan modal, bimbingan dan pelatihan bagi pengusahan mikro sehingga mereka bisa mengakses layanan keuangan dan informasi dengan memberdayakan toko dan warung milik perorangan melalui teknologi yang mudah digunakan semua orang.

Salah satu bentuk teknologi yang dikembangkan menggunakan telepon merupakan hasil kerjasama PT Ruma, Grameen Foundation, dan Prakarsa Qualcomm's Wireless Reach. Mekanismenya adalah dilakukan perekrutan terhadap pemilik warung kecil atu toko milik perorangan yang memiliki potensi menjadi penyedia layanan pembayaran dan keuangan. Kemudian mereka yang telah direkrut menjadi agen membeli paket berisi ponsel dengan pinjaman mikro. Ponsel ini yang kemudian berfungsi sebagai platform untuk menyediakan aplikasi dan layanan tambahan untuk meningkatkan pendapatan. Agen ini akan dilatih cara meminta pulsa ke server Ruma dan bagaimana menjual pulsa. Inilah cara agen memulai bisnis pulsa. Mikro-franchise dapat segera mulai menjual airtime, atau pulsa, untuk anggota komunitas mereka dengan menggunakan ponsel mereka sebagai alat transaksi.

Setelah dua tahun berjalan, Ruma sudah memiliki lebih dari 8.300 agen di sekitar Jakarta. Ini merupakan pencapaian yang baik dengan keanggotaan kebanyakan adalah perempuan yang memiliki warung dan menjual bisnis pulsa sebagai usaha sampingan. Dengan bisnis sampingan ini, tambahan penghasilan yang diterima bisa digunakan untuk menambah modal bisnis utama mereka. Menurut Ruma tambahan penghasilan bisa mencapai Rp 20.000 – 40.000 perhari. Meski kecil, namun itu jumah yang cukup banyak membantu pemilik usaha kecil.

Tantangan bagi Ruma sendiri cukup besar untuk melakukan perluasan usaha (scale up). Diversifikasi produk usaha telah dilakukan seperti layanan Mapan (Ruma Harapan) dengan menjadikan agen pemilik warung sebagai tempat menabung karena kebanyakan masyarakat kecil tidak memiliki akses resmi ke bank konvensional. Berbagai inovasi produk lain berbasis ponsel juga telah dikembangkan. Namun demikian terdapat kendala untuk menemukan invenstor untuk bisnis sosial. Belum banyak perusahaan lokal dan nasional di Indonesia yang berinisiasi untuk mendukung bisnis sosial karena dianggap tidak memberikan keuntungan besar. Meski demikian, bisnis sosial seperti Ruma telah berhasil membantu meningkatkan penghasilan masyarakat miskin perkotaan yang selama ini tidak memiliki opsi bantuan dan pinjaman di lembaga keuangan formal.

Foto: nae

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1412
Permalink to this post: http://urb.im/ca1412jki