Menuju keuangan inklusif melalui pendidikan keuangan

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 19 Desember 2014

Peningkatan akses keuangan masyarakat berpendapatan rendah menjadi perhatian utama pemerintah sebab selama ini akses masyarakat terhadap bank formal masih sangat rendah. Menurut Bank Indonesia, Survey Neraca Rumah Tangga tahun 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga yang memiliki akses di lembaga keuangan formal hanya 20 persen. Minimnya tingkat akses ini disebabkan oleh faktor pendapatan masyarakat yang rendah, operasional bank yang rumit, terbatasnya edukasi keuangan dan perbankan, dan tingginya biaya administrasi bank. Fakta ini memunculkan pemikiran untuk menerapkan strategi keuangan inklusif oleh Bank Indonesia (BI) untuk mendorong kegiatan ekonomi masyarakat yang belum terjangkau oleh layanan keuangan sehingga mendorong pemerataan pendapatan dan pengentasan kemiskinan. Kebijakan ini merupakan strategi nasional yang bertujuan untuk meniadakan segala bentuk hambatan terhadap akses masyarakat dalam memanfaatkan layanan jasa keuangan. Salah satu pilar dalam kebijakan keuangan inklusif adalah pemberian pendidikan keuangan untuk masyarakat melalui beberapa program yang dilaksanakan di beberapa kota besar termasuk Surabaya.

Salah satu program pendidikan keuangan (financial education) adalah kampanye AYO KE BANK dan peluncuran produk TabunganKu. Program ini memberi kesempatan pada masyarakat yang selama ini tidak terjangkau oleh sektor keuangan formal untuk dapat mengakses jasa perbankan termasuk produk bank yang paling dasar seperti tabungan, pinjaman, transfer, serta asuransi dengan harga yang terjangkau. Dalam skema ini, mereka yang tertarik untuk menabung tidak dikenai biaya bulanan dan tabungan awal atau deposit yang rendah. Dengan demikian diharapkan akan lebih banyak orang mulai menabung maupun memakai jasa keuangan lainnya.

Gerakan pendidikan keuangan melalui kampanye Ayo Ke Bank juga menyediakan mobil edukasi, pembuatan website dan brosur. Mobil edukasi berisi berbagai buku dan informasi perbankan yang melakukan kunjungan rutin ke sekolah-sekolah, pasar, perumahan, dan gedung perkantoran. Sedangkan website dan brosur dibuat untuk memperkenalkan masyarakat terhadap layanan perbankan termasuk pinjaman, cara menyampaikan keluhan, cara menabung dan berinvestasi. Program ini juga berusaha memperkenalkan perbankan kepada generasi muda melalui pembuatan kurikulum pendidikan keuangan bagi murid sekolah dasar dan menengah. Pengenalan terhadap fungsi bank sejak dini juga dilaksanakan dengan membawa murid-murid ke bank agar dapat melihat dan belajar secara langsung.

Keuangan inklusi sebagai tujuan dari pendidikan keuangan yang dilaksanakan oleh BI merupakan sebuah blue print kebijakan yang telah diawali sejak tahun 2008 dan kemudian dilaksanakan melalui berbagai rangkaian program yang masih berjalan hingga saat ini. Implementasi kebijakan ini bukan hal mudah dan dalam perjalanannya telah bekerja sama dengan banyak bank besar nasional lainnya seperti BRI, CIMB, BNI, dan sebagainya. Namun demikian hasil temuan dalam Financial Literacy Survey masih menunjukkan banyak kelemahan dimana pemahaman keuangan masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh gender, umur, tingkat pendidikan dan jarak dari rumah ke Bank. Untuk itu butuh komitmen kuat dari berbagai pihak untuk terus melakukan pendidikan finansial, terutama kepada generasi muda dan masyarakat miskin, serta pentingnya koordinasi dan kolaborasi antar pihak untuk keberlanjutan kampanye inklusi keuangan.

Foto: Bank ICB Bumiputera

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1412
Permalink to this post: http://urb.im/ca1412sui