Posyantek mendorong kemandirian ekonomi masyarakat miskin kota

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 21 Januari 2015

Kemiskinan perkotaan di Jakarta bukan hanya terjadi karena arus urbanisasi, namun juga ketidakmampuan memanfaatkan teknologi tepat guna (TTG) untuk pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah masih memilki perhatian yang minim terhadap perkembangan dan kemajuan teknologi. Hal ini, misalnya, tercermin dari sedikitnya dana yang digelontorkan pemerintah tiap tahunnya untuk penelitian yang mencapai hanya 0.08 persen dari APBN. Angka ini masih jauh jika dibandingkan dengan Singapura (2.36 persen) dan Malaysia (0.63 persen), ataupun Thailand (0.25 persen). Padahal melalui penelitian inilah diharapkan akan banyak inovasi yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Alih teknologi ke masyarakat juga belum terjadi sehingga percepatan pembangunan yang menjadi harapan pemerintah belum mampu terwujud.

Untuk itu Pemerintah membentuk Posyantek (Pos Pelayanan Teknologi) yang didukung dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 20 tahun 2010 tentang pemberdayaan masyarakat melalui Pengelolaan Teknologi Tepat Guna (TTG). Peraturan ini kemudian diimplementasikan di Jakarta melalui Instruksi Gubernur dan Peraturan Gubernur No. 88 tahun 2011. TTG dipercaya mampu memicu pertumbuhan karena bisa memangkas produksi, memberikan nilai tambah produk, memperbaiki mutu produksi hingga akhirnya masyarakat mampu meningkatkan taraf hidupnya dan keluar dari jerat kemiskinan.

Posyantek dibentuk di tiap kecamatan dengan tujuan mendorong peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat sehingga mereka mampu melakukan inovasi menggunakan seumberdaya yang ada disekitar mereka untuk menambah pendapatan. Posyantek berfungsi memberikan pelatihan teknis, informasi dan orientasi berbagai jenis TTG. Untuk wilayah Jakarta sendiri untuk saat ini sudah ada 5 Posyantek percontohan di 5 kecamatan yaitu kecamatan Cempaka Putih, Pademangan, Kebon Jeruk, Pancoran, dan Kramat Jati. Namun demikian total 44 Posyantek sedang dipersiapkan pendiriannya.

Tiap Posyantek ini dilengkapi dengan beberapa teknologi yang bisa diaplikasikan di tingkat rumah tangga seperti mesin pencacah sampah, komposter mini, Ovitrap, Protektor septic tank, alat pembuat pestisida nabati dan berbagai jenis TTG lain. Tiap posyantek nantinya akan dikembangkan melalui serangkai lokakarya dan training bagi pengelola sehingga mereka mampu secara mandiri memberikan pelatihan bagi masyarakat. Tiap Posyantek telah dilengkapi internet dan operator Posyantek sendiri harus melek IT dan paham penggunaan sosial media dan blog untuk optimalisasi manfaat Posyantek.

Keberadaan Posyantek pada tingkat kecamatan sangat membantu kaum miskin perkotaan untuk mengakses teknologi tepat guna dan terjangkau, sebab selama ini mereka terpinggirkan karena minimnya informasi dan pilihan untuk optimalisasi usaha. Agar masyarakat merasa memilki Posyantek maka operasionalisasi Posyantek dilakukan bersama dengan organisasi masyarakat sipil seperti LSM, universitas dan relawan. Dengan demikian, sasaran program posyantek dapat lebih luas hingga kelompok masyarakat dapat lebih memanfaatkan potensi ekonomi di sekitar mereka.

Keberadaan Posyantek diakui telah banyak membantu masyarakat baik di tingkat rumah tangga maupun pemilik usaha kecil. Namun demikian yang harus menjadi perhatian bersama adalah bahwa hingga kini Posyantek belum begitu dikembangkan diluar 5 kecamatan tersebut dikarenakan masih sedikitnya dukungan moral dan material dari pimpinan daerah seperti fasilitasi tempat serta promosi yang gencar ke bawah. Padahal jika bisa dimaksimalkan keberadaan Posyantek dapat dijadikan mitra usaha bisnis kecil maupun secara kolektif, masyarakat dapat mandiri bersama.

Foto: Foto MHMMD

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1501
Permalink to this post: http://urb.im/ca1501jki