Pemuda sebagai penggerak perubahan

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 24 Februari 2015

Menghadapi ASEAN Economic Community tahun 2015 mendorong pemerintah kota Surabaya bergerak cepat menyiapkan penduduknya untuk bersaing pada level global. Bonus demografi yang dimiliki saat ini berpeluang memanfaatkan pemuda untuk berperan lebih besar. Selama ini belum banyak program pemerintah yang menjadikan pemuda sebagai subjek perubahan, terutama mereka yang berasal dari masyarakat miskin perkotaan. Surabaya sendiri memiliki total populasi sebesar 2,8 juta dan jumlah penduduk miskin perkotaan mencapai 169 ribu dan separuhnya adalah pemuda dalam usia produktif bekerja. Ini merupakan pekerjaan rumah besar bagi sebuah kota metropolitan.

Kota Surabaya saat ini dibawah kepemimpinan Ibu Tri Risma Harini dengan gencar mempromosikan perbaikan pelayanan publik bagi penduduknya termasuk pemuda. Salah satu inisiatifnya adalah pendirian Rumah Bahasa yang memberikan pendidikan bahasa, teknologi dan informasi serta berbagai keahlian bagi mereka yang selama ini termarjinalkan yang bekerja pada sektor informal seperti pedagang kaki lima, tukang becak atau pemilik usaha kecil. Kebijakan ini kemudian dikombinasikan dengan menggandengan kantor-kantor pemerintah untuk menyediakan program magang agar para pemuda ini bisa langsung bersinggungan dengan teknologi dan informasi.

Rumah Bahasa meyediakan berbagai pelatihan bahasa seperti bahasa inggris dan mandarin serta pelatihan bidang informasi dan teknologi. Rumah Bahasa sangat membantu mereka yang tidak memiliki cukup dana untuk meningkatkan keahlian mereka dari segi bahasa maupun kebutuhan untuk keahlian yang bersifat praktek sebab Rumah Bahasa memberikan jasa pelatihan tanpa biaya. Fasilitas yang lengkap termasuk komputer, jaringan internet, perpustakaan berisi buku-buku pendukung pelatihan dan ruang kelas ber-AC membuat warga sangat antusias terhadap keberadaan Rumah Bahasa. Selain itu mereka juga membuka klinik konsultasi jika para pemuda ini membutuhkan masukan cara berinvestasi atau membuat bisnis baru ataupun konsultasi bidang informasi dan teknologi.

Berbagai pelatihan tersebut akan membantu generasi muda yang berada di wilayah miskin perkotaan ini untuk bisa meningkatkan kapasitas mereka. Melengkapi inisiatif ini, Pemkot Surabaya juga mendorong program magang bagi mereka di kantor-kantor pemerintah sehingga memberi kesempatan bagi mereka untuk bersinggungan langsung dengan teknologi dan informasi. Fokus pemerintah Surabaya saat ini juga peningkatan kapasitas pemuda di bidang teknologi informasi melalui pemberian training dan pendirian "Broadband Learning Centers" (BLC) yang terletak di lokasi-lokasi startegis. BLC menawarkan pelatihan gratis bagi pemuda mengenai penggunaan internet, blogging, pembuatan website dan pelatihan lain yang menarik bagi kaum muda.

Adanya political will yang baik dari pemerintah daerah memberikan angin segar bagi kemajuan para pemuda dari keluarga miskin perkotaan yang selama ini belum banyak tersentuh oleh kebijakan pemerintah maupun sektor swasta. Tantangan utama bagi pemerintah Surabaya pada dasarnya terletak pada bagaimana menjaga pemerintah bisa konsisten membiayai program tersebut ketika terjadi pergantian kepala daerah. Pelembagaan praktik ini dalam sebuah regulasi bisa menjadi salah satu jawabannya. Selain itu perlu banyak dorongan agar sektor swasta di Surabaya mulai peduli terhadap pemuda miskin dan bukan hanya mengeksploitasi tenaga mereka sebagai buruh pabrik yang dibayar dengan murah.

Foto: AL_foto

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1502
Permalink to this post: http://urb.im/ca1502sui