Monitoring banjir Jakarta dengan Twitter

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 12 Maret 2015

Banjir merupakan siklus tahunan yang dialami kota Jakarta. Tiap musim penghujan dapat dipastikan banjir akan menerpa berbagai sudut kota; dan ritual rumah-rumah kebanjiran, pengungsian, macet dan masalah kesehatan muncul selama musim hujan. Menurut data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) DKI Jakarta lebih dari satu juta orang terkena dampak banjir dan sekitar 80 ribu orang terlantar akibat banjir tahun lalu. Berbagai upaya penanggulangan banjir telah dilaksanakan namun saat hujan banjir tetap menjadi bencana. Tapi kini melalui inovasi di era sosial media, BPBD DKI Jakarta bersama dengan Fasilitas Infrastruktur SMART dari Universitas Wollongong Australia dan Twitter meluncurkan Petajakarta.org untuk memantau banjir di wilayah perkotaan.

PetaJakarta.org adalah platform open source yang melibatkan masyarakat untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi tentang banjir di Jakarta. Proyek ini dimulai sejak Mei 2014 dan diluncurkan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada bulan desember yang lalu. Pilihan menggandeng Twitter dikarenakan Jakarta merupakan salah satu kota dengan pengguna Twitter teraktif di dunia sehingga akan sangat mudah memperoleh informasi titik-titik banjir. Cara menggunakan platform ini sangat mudah terutama bagi masyarakat yang sudah melek internet dan sosial media. Mereka hanya perlu mendownload aplikasi twitter, mengirim Twit dan program geolokasi Peta Jakarta akan menandai lokasi banjir di peta. Semakin banyak Twit maka semakin banyak pula informasi tentang status banjir di Jakarta.

Keberadaan PetaJakarta.org merupakan salah satu peluang untuk menumbuhkan kepedulian warga Jakarta untuk menolong sesama warga saat terjadi banjir. Informasi yang disampaikan lewat Twitter bukan hanya dari korban banjir namun dari siapapun yang sedang melihat atau melintasi lokasi banjir. Dengan Twit ini, informasi banjir dijadikan sebagai dasar bagi BPBD Jakarta untuk merespon lebih cepat dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Respon masyarakat cukup baik terhadap keberadaan PetaJakarta, terbukti saat banjir 9 februari lalu terdapat 800 twit tiap jam dan tercatat sekitar 12.000 orang menggunakan website tersebut. Sebelumnya BPBD bergantung pada laporan RT/RW namun dengan kehadiran PetaJkarta, informasi banjir bisa diakses secara real-time. Perbaruan kondisi di PetaJakarta terjadi tiap 60 detik, lebih cepat dibandingkan dengan sistem BPBD yang diperbarui tiap 6 jam.

Keberdaaan system ini akan lebih cepat jika melibatkan pengurus RT/RW di Jakarta sebab mereka yang paling mengetahui kondisi daerahnya. Oleh karena itu, Gubernur DKI dengan aktif mendorong mereka untuk berpartisipasi menggunakan twitter dan melaporakan jika terjadi banjir. Insentif berbentuk gaji akan diberikan kepada kepala RT/RW yang secara aktif men-Twit soal banjir di daerahnya. Kemudian untuk lurah dan camat juga diwajibkan untuk memantau langsung kondisi lapangan dengan menyediakan paling tidak 75 pegawai yang disebar di beberapa lokasi rawan banjir.

Perpaduan antara penelitian dan inovasi telah membuat Petajakarta.org menjadi salah satu sumber informasi bagi pemerintah untuk meningkatkan keselamatan publik saat banjir terjadi. Masyarakat luas digerakkan bersama-sama dan berpartisipasi dalam upaya penanganan banjir Jakarta dan meminimalisir kerugian akibat banjir. Namun demikian masih terdapat banyak tantangan. Sistem PetaJakarta sudah berjalan dengan baik tapi yang harus diperbaiki adalah kesiapan dari pemerintah, terutama ketika banyak laporan permintaan bantuan selama banjir masuk ke BPBD, perlu ada perbaikan pengelolaan sumberdaya yang mereka miliki untuk membantu korban banjir. Selain itu sistem koordinasi dan komunikasi BPBD dengan dinas pemerintah terkait juga harus selalu diperbaiki sehingga penanganan akibat banjir dapat dilaksanakan lebih baik dan tepat sasaran.

Foto: PetaJakarta.org Flood Research

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1503
Permalink to this post: http://urb.im/ca1503jki