Potensi biogas menjadi energi

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 23 April 2015

Indonesia merupakan salah satu Negara dengan potensi energy terbarukan yang sangat melimpah. Namun demikian potensi tersebut belum secara maksimal digali dan dikembangkan. Setidaknya ada delapan bentuk energy terbarukan yang ada di Indonesia yaitu panas bumi, biofuel, panas surya, angin, biogas, ombak laut dan suhu kedalaman laut. Jenis energy ini dipercaya lebih bersih dan ramah lingkungan, aman serta terjangkau oleh masyarakat miskin. Yayasan Rumah Energi (YRE) merupakan salah satu organisasi yang mendorong penggunaan biogas untuk rumah tangga dengan menggunakan teknologi yang mampu mengubah kotoran ternak menjadi biogas melalui sebuah program bernama Biru. Program ini melibatkan sektor bisnis, lembaga pemberi bantuan keuangan bank dan non-bank dengan menggunakan pendekatan pasar.

YRE bertujuan untuk mengembangkan dan mempromosikan energy terbarukan sebagai solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energy terutama bagi masyarakat miskin sebab selama ini mereka banyak bergantung pada bahan bakar fosil tradisional dan sumberdaya alam lain seperti kayu bakar dan batu bara yang cenderung lebih murah. Oleh karena itu YRE mendorong masyarakat menggunakan tenaga alternative menggunakan sumber daya yang tersedia disekitar mereka melalui program Biru yang diinisiasi oleh Hivos dan SNV. Program biru mempromosikan penggunaan rekator biogas sebagai sumber energy lokal yang berkelanjutan dengan mengembangkan pasar. Pasar menjadi faktor penting sebab bagaimanapun teknologi tersebut digunakan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Selama ini masyarakat miskin selalu menunggu uluran tangan dari pemerintah untuk berhasil, namun program Biru menciptakan kesadaran bahwa keberhasilan datang melalui upaya mereka sendiri. Untuk itu, swadaya menjadi penting. Rumah tangga didorong menggunakan teknologi biogas tersebut dengan bantuan pendanaan berupa kredit lunak dari beberapa bank yang berkomitmen dalam program Biru seperti Bank BNI dan Rabobank serta menggandeng pihak swasta yang tertarik mengambil fungsi penting seperti Nestle yang sudah menjadi partner. Program ini melibatkan masyarakat sebagai pemilik teknologi dan melatih mereka untuk menggunakan dan merawatnya. Kini rumah tangga tersebut telah mampu mengembangkan peralatan inti biogas dan semua peralatan tersebut dibuat secara lokal dengan kualitas yang baik.

Pada dasarnya teknologi biogas ini berfungsi mengubah kotoran binatang dan manusia serta materi organic lainnya menjadi biogas. Reaktor mengolah kotoran dan air menjadi gas. Pada tingkat rumah tangga, biogas ini digunakan sebagai bahan bakar mamasak dan lampu penerangan, sedangkan kotoran yang sudah terfermentasi dikeluarkan dan ampasnya bernama bio-slurry yang dapat digunakan sebagai pupuk organik dan bermanfaat untuk menyuburkan lahan dan meningkatkan produksi tanaman budidaya.

Program Biru mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat sebab teknologinya membantu mereka mengolah kotoran termak sehingga tidak menumpuk dan bau serta mendapat bahan bakar gratis. Selain itu juga terjadi peningkatan aktivitas ekonomi yang cukup signifikan. Program yang melibatkan banyak pihak tersebut dinilai berhasil dijalankan dan teknologi yang digunakan memiliki tingkat ketahanan yang lama. Tantangan terbesar dalam program ini adalah mempertahankan keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat ketika teknologi ini mengalami hambatan dan pada saat yang sama mereka harus terus membayar ke bank untuk penggunaan teknologi tersebut. Selain itu peran pemerintah cenderung lemah selama ini dalam hal mendorong keterlibatan sektor publik dan privat untuk terlibat dalam inverstasi penyediaan teknologi biogas meski pemerintah pusat telah mendeklarasikan untuk menjadi negara mandiri energi.

Foto: PURI ORGANIK FARM

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1504
Permalink to this post: http://urb.im/ca1504jki