Sampah kota yang membawa berkah

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 13 April 2015

Sampah di perkotaan selalu menjadi persoalan serius yang di hadapi semua kota di dunia termasuk Surabaya. Meningkatnya jumlah penduduk berbanding lurus dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Permasalahan sampah muncul bukan hanya dari masyarakatnya yang belum memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan namun juga kelemahan pemerintah dalam kebijakan pengelolaan sampah kota. Namun Surabaya menunjukkan kekuatan dalam mengatasi dua kelemahan tersebut : teknologi pengolahan sampah kota menjadi listrik dan mendorong komunitas untuk mengolah sampah rumah tangga mereka mereka untuk mengurangi jumlah sampah.

Jumlah sampah Surabaya per hari kini mencapai 1.300 ton yang ditampung dalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tersebar di beberapa lokasi. Penerapan teknologi nol sampah mampu mengolah air limbah sampah dan mengubah sampah kota menjadi kompos dan bahan pembangkit listrik. Beberapa jenis sampah juga di daur ulang menjadi bahan bernilai ekonomis. Dengan pembangkit listrik berbahan sampah, Surabaya telah mampu menghasilkan listrik berkekuatan 40.000 watt. Dengan potensi jumlah sampah yang kian bertambah, pemerintah akan segera menempatkan pembangkit listrik tenaga sampah di dua lokasi lain sehingga dengan energi listrik yang dihasilkan dapat membantu lebih banyak warga.

Upaya pengelolaan sampah kota memerlukan partisipasi luas yang dimulai dari warga di desa dan kampung-kampung kumuh dan padat di Surabaya. Perbaikan kampung telah dilaksanakan melalui program Kampung Improvement Program (KIP) yang menyediakan akses jalan, sistem drainase, pengelolaan limbah dan sampah dan berbagai fasilitas sosial. Salah satu contoh keberhasilan adalah Kampung Gundih di Surabaya yang sebelumnya terkenal sebagai "kawasan merah". Citra negatif ini berasal dari kenyataan bahwa daerah tersebut merupakan daerah miskin yang dipenuhi perumahan informal dengan tingkat kejahatan tinggi. Pelaksanaan KIP kampung Gundih dilaksanakan tahun 2007 dengan mendorong terjadinya peremajaan kampung secara swadaya. KIP diarahkan untuk menciptakan kampung hijau dan bersih melalui aktivitas seperti pemilahan dan pengolahan sampah, pengolahan air limbah dan menjaga kebersihan lingkungan. Kini warga secara mandiri mampu memisahkan sampah organik dan non-organik. Sampah non organik diolah menjadi kompos yang digunakan untuk merawat tanaman di kampung. Sementara itu perubahan perilaku didorong melalui pengenalan terhadap konsep 3R – reduce, reuse, recycle.

Kemudian untuk pengolahan air limbah dilakukan secara komunal dan individu. Air limbah manusia diolah secara individu pada septic tank di tiap rumah sedangkan air limbah rumah tangga diolah melalui APAL – alat pengolahan air limbah, yang tersedia di setiap gang rumah. Proses pengolahan air limbah dilakukan secara sederhana dimana air limbah dari rumah disalurkan ke APAL dan dijernihkan. Air hasil olahan disalurkan dan digunakan bersama-sama untuk menyiram tanaman dan mencuci motor. Hasil olahan air limbah mencapai 5-6 kubik meter air perbulan.

Penyelesaian permasalahan sampah perkotaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun memerlukan partisipasi luas masyarakat. Pemanfaatan teknologi yang menghasilkan nol sampah merupakan kebijakan yang tepat untuk mengatasi persoalan sampah kota. Selain itu dukungan masyarakat luas terhadap upaya peremajaan dan perbaikan kampung kumuh sangat baik yang membawa Surabaya menjadi salah satu kota di ASEAN yang menerima ASEAN Environmentally Sustainable City (ESC) Award. Namun demikian tantangan terbesar tentu pada tingkat komitmen masyarakat untuk terus melaksanakan program pemerintah secara swadaya serta mendorong perubahan perilaku. Tantangan dari sisi pemerintah adalah meneruskan good political will yang ada saat ini dan menginstitusinalkan praktik-praktik baik sehingga saat pergantian kepemimpinan politik, kegiatan bisa tetap berjalan.

Foto: Anton Muhajir

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1504
Permalink to this post: http://urb.im/ca1504sui