Penyambung aspirasi kelompok terpinggirkan perkotaan

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 5 Mei 2015

Permasalahan kota merupakan tanggung jawab bersama untuk menyelesaikannya. Dalam teori partisipasi oleh Sherry R Arnstein kita mengenal delapan tangga partisipasi ("ladder of participation") yang mencakup tingkat terendah, manipulasi, dan tingkat tertinggi, kontrol oleh masyarakat ("citizen control"). Tingkat partisipasi ini tergantung, salah satunya, pada tersedianya saluran politik yang diberikan pemerintah melalui mekanisme musyawarah bersama yang menghadirkan stakeholder pembangunan. Namun dalam pelaksanaannya, mekanisme perencanaan masih bersifat formalitas dan kerap terjadi diskriminasi terhadap kelompok miskin dan minoritas yang dianggap tidak mampu menyuarakan aspirasinya. Akibatnya mereka kerap teralienasi dalam wilayah politik pengambilan keputusan. Untuk itu peran forum seperti Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) bisa digunakan sebagai alternative untuk menyuarakan kepentingan warga yang terlupakan oleh pemerintah dan wakilnya di parlemen.

Fakta dibentuk pada tahun 2000 untuk menjadi Dewan Kota Alternatif yang diharapkan mampu menjadi 'corong' bersuaranya kelompok miskin dan terpinggirkan di kota Jakarta. Organisasi ini dibentuk oleh beberapa orang yang disatu sisi prihatin terhadap kondisi masyarakat miskin perkotaan dan di sisi lain memiliki idealisme untuk ikut mendorong Jakarta menjadi kota yang lebih transparan dan partisipatif. Beragam isu yang diangkat oleh Fakta misalnya terkait tata kota, pelayanan publik, penataan kampung miskin, transportasi, penggusuran, banjir dan lingkungan hidup. Aktivitas Fakta sendiri mencakup advokasi kebijakan publik, kampanye, upaya litigasi, membuat radio komunitas serta pengorganisasian massa untuk memastikan isu yang diangkat mendapat suara dan di dengar oleh para pengambil kebijakan.

Keberadaan Fakta telah memberikan angin segar bagi kelompok minoritas perkotaan karena selain menampung aspirasi mereka, Fakta juga memberikan pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kesadaran dan kapasitas mereka, seperti pelatihan yang diterima oleh beberapa anggota paguyuban pemulung yang mengikuti pelatihan analisa sosial. Kegiatan ini memberi pengalaman luar biasa bagi peserta sebab mereka menjadi paham peta monopoli pasar yang didominasi oleh pengusaha besar dan berpikir untuk keluar dari penguasaan para penguasaha daur ulang. Kini mereka sedang berupaya menjadi mandiri dan bekerjasama dengan paguyuban pemulung lain untuk pengelolaan sampah atau barang daur ulang.

Fakta banyak menggunakan media dan advokasi langsung sebagai metode menggapai masyarakat secara luas dan menyuarakan aspirasi mereka yang terpinggirkan. Melalui ketua Fakta, Azas Tigor Nainggolan, beragam isu telah berhasil disampaikan baik kepada parlemen maupun pemerintah kota DKI Jakarta. Misalnya terkait kasus pengelolaan PD Pasar jaya, banyak dari penjual di pasar tradisional menyayangkan upaya revitalisasi pasar agar dapat bersaing dengan pasar modern. Upaya menyampaikan aspirasi keberatan dari para pedagang tersebut dilakukan melalui serangkaian pertemuan dengan Komisi B DPRD Jakarta dan menyampaikan rekomendasi agar direksi yang memimpin PD Pasar Jaya adalah yang memiliki perhatian terhadap nasib pedagang kecil agar tidak tersingkir.

Bukan hal yang mudah untuk mengukur keberhasilan organisasi seperti Fakta dan seberapa efektif advokasi yang telah mereka lakukan sebab perubahan pada tingkat kebijakan memakan waktu yang lama dan komunikasi yang intensif. Dalam upaya advokasinya, selain secara aktif melakukan pertemuan dengan para pengambil kebijakan, Fakta juga melakukan peningkatan kapasitas advokasi masyarakat melalui berbagai training dan menyusun rangkaian penelitian ilmiah untuk mendukung kegiatan advokasinya. Fakta telah memainkan peranan yang baik sebagai penyambung aspirasi warga, namun seperti kebanyakan organisasi lokal di Indonesia, masih terdapat ketergantungan terhadap tokoh tunggal dan proses kaderisasi yang berjalan lambat sehingga keberlanjutan dukungan dan program yang dijalankan Fakta dapat sewaktu-waktu terancam berhenti jika tokoh ini meninggalkan organisasi.

Foto: Poppy Dharsono

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1505
Permalink to this post: http://urb.im/ca1505jki