Lembaga keuangan mikro syariah dan perempuan pengusaha

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 10 Agustus 2015

Kaum perempuan perkotaan merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap kemiskinan. Peran mereka dalam perekonomian formal sangat terbatas. Padahal menurut Laporan Bank dunia dalam World's Development Report 2012 terdapat hubungan yang signifikan antara gender, pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi. Secara statistik, jumlah pekerja perempuan di sektor informal mencapai hampir 58 persen sedangkan laki-laki hanya 50,9 persen. Sedikitnya keterlibatan perempuan di sektor formal juga disebabkan karena Bank belum memiliki kebijakan yang pro-pengusaha perempuan sehingga banyak yang terjebak perangkap rentenir denga bunga tinggi. Oleh karena itu hadirnya lembaga keuangan mikro Baitul Maal Tamwil (BMT) seperti BMT Nurul Islam di Surabaya sangat membantu kelompok perempuan ini untuk mendapat bantuan modal.

BMT merupakan salah satu jenis lembaga keuangan syariah yang bertujuan menggerakkan perekenomian masyarakat. Siapapun dapat mendirikan BMT asalkan sesuai dengan tata cara pendiriannya. Keberadaan BMT ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat ekonomi lemah terhadap cengkeraman rentenir dan memperkecil kesenjangan ekonomi. Ada tiga peran yang dimainkan BMT dalam pemberdayaan masyarakat yaitu sektor finansial, melalui pemberian fasilitas pembiayaan untuk pengusaha kecil dengan konsep syariah; sektor riil, melalui pembinaan manajemen dan profesionalisme; sektor religious, dimana BMT memberikan ajakan dan himbauan kepada umat islam untuk membayar zakat dan beramal.

Kaum perempuan merupakan salah satu sasaran utama pemberian fasilitas keuangan sebab disadari bahwa pengusaha perempuan kurang mendapat dukungan modal dari lembaga keuangan dan perbankan. BMT sangat menyadari bahwa kemampuan perempuan tidak kalah dari laki-laki dan memiliki potensi untuk menghasilkan hubungan perbankan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Perhatian terhadapa perempuan juga ditunjukkan melalui peningkatan kualitas dan keragaman layanan bagi nasabah perempuan. Pemberian modal dapat diberikan kepada kelompok maupun individu perempuan pengusaha mikro dan kecil. Pinjaman bisa diberikan tanpa agunan dengan besaran pinjaman pun mikro sebesar satu juta (USD $76) dan dapat ditingkatkan menjadi 3 juta (USD $230) dalam 6 bulan jika memiliki kinerja yang baik.

Sistem BMT ini memiliki kesamaan dengan Grameen Bank di Bangladesh yang memberikan bantuan modal bagi perempuan. Selain modal usaha, BMT juga memberikan pendampingan dan pelatihan seperti pelatihan pembukuan dan pelatihan kesehatan lingkungan. Namun yang membedakan adalah penerapan system bagi hasil dan bukan bunga seperti layaknya bank konvensional sebab bunga dianggap riba dalam islam. Jika ada keuntungan, maka keuntungan menjadi milik bersama, dan kalaupun rugi, BMT ikut menanggung rugi. Jika pemodal menanggung rugi finansial maka pengusaha menanggung kerugian non finansialnya. Oleh Karena itu agar tidak rugi BMT selain ikut mengawasi perkembangan usaha peminjam, juga memberikan keahlian di bidang pemasaran dan keuangan agar pengusaha perempuan dapat mengatur modal yang dipinjam.

Lembaga keuangan Mikro seperti BMT terbukti lebih mampu bertahan disaat krisis ekonomi seperti yang terjadi tahun 1998 dan 2008. Meski banyak juga BMT yang bermasalah, namun fungsi dan perannya dalam ekonomi mikro sangat nyata bagi kelompok perempuan untuk memulai usahanya. Namun demikian terdapat beragam kendala dalam BMT itu sendiri, baik internal maupun eksternal seperti permasalahan likuiditas serta permasalahan menyangkut ketidakmampuan nasabah dalam pembayaran. Untuk itu BMT harus bekerja dengan efisien dan professional sehingga mampu berkembang di tengah masyarakat yang dinamis dan persaingan dengan lembaga keuangan lain.

Foto: temanggung com

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1508
Permalink to this post: http://urb.im/ca1508sui