Pengelolaan Sampah Terpadu Greater Jakarta

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 6 December 2015

Peran ganda Jakarta sebagai pusat pemerintahan nasional, pusat bisnis, perdagangan dan jasa, pusat pendidikan dan kebudayaan serta pariwisata menjadi faktor utama terjadinya urbanisasi. Jakarta yang tumbuh pesat berakibat juga terhadap perkembangan kota-kota disekitarnya. Kawasan pinggiran ini atau yang kini kerap disebut sebagai Greater Jakarta meliputi wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek) berperan sebagai penunjang sekaligus penyangga perkembangan Jakarta sebagai kota inti. Kawasan ini memiliki peran penting karena 60% penduduk Jabodetabek tinggal disana. Dengan penambahan Cianjur, Sukabumi, Karawang dan Purwakarta, maka Greater Jakarta akan membengkak menjadi seluas 16.000 km2 dengan jumlah penduduk mencapai hampir 30 juta. Perkembangan ini tentu membutuhkan perencanaan kota yang benar termasuk dalam pengelolaan sampah.

Mengelola sampah bukan hal yang mudah untuk metropolitan Jakarta sebab volume yang terus meningkat. Saat ini diperkirakan DKI Jakarta menghasilkan 6.000 ton sampah perhari dengan rata-rata peningkatan sebesar 5% pertahun. Untuk itu pengelolaan sampah tidak dapat diselesaikan sendiri dan harus bekerjasama yang melibatkan daerah penyangga. Pengelolaan sampah secara terintegrasi diharapkan dapat menyelesaian masalah sampah wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pengelolaan sampah bersama memanfaatkan lahan TPA Bantar Gebang di Bekasi serta upaya pengolahan sampah dalam kota dengan membangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengurangi jumlah sampah yang harus dikirim ke TPA. Peningkatan kesadaran masyarakat juga terus ditingkatkan melalui pemberdayaan masyarakat dalam pengolahan sampah.

Saat ini telah dioperasikan TPST Cakung Cilincing yang mampu mengelola 1.300 ton sampah perhari. TPST ini memanfaatkan teknologi yang dikenal dengan Mechanical Biological Treatment (MBT) yang mengolah sampah organik dengan sistem daur ulang. Selain itu TPST Sunter dan Marunda juga akan dioperasikan. Ketiga TPST ini jika dioperasikan bersama mampu menampung 4.500 ton sampah. Sampah kemudian diolah menjadi kompos, bahan bakar pembangkit listrik serta mampu menghasilkan bahan bakar gas (BBG). Sedangkan, ITF (Intermediate Treatment Facility) Sunter yang berdiri di atas lahan 3,5 hektar direncanakan mampu mengolah sampah sebanyak 1.200 ton per hari dengan teknologi waste to energy.

Koordinasi antar daerah penyangga untuk pengelolaan sampah terus dilakukan. Namun demikian tiap kota memiliki strategi sendiri dalam pengelolaan sampah dalam kota. Bekasi misalnya telah merancang system berbasis teknologi yang akan mengatur pengelolaan sampah dari hulu hingga ke hilir. Caranya dengan memasang GPS pada truk pengangkut sampah untuk mengetahui pergerakannya. Masyarakat juga bisa melaporkan tumpukan sampah dilingkungannya dengan mengirim foto dan petugas akan datang. Sementara itu pengelolaan sampah di Tangerang lebih bertumpu pada sinergitas masyarakat dimana masyarakat di dorong untuk mengelola sampah sendiri dengan membuat Bank Sampah. Sampai tahun 2015 telah muncul 39 komunitas peduli sampah yang tersebar di Kota Tangerang dan 350 Bank Sampah.

Pengelolaan sampah terpadu dengan pendekatan berwawasan lingkungan serta pilihan model pengelolaan dalam kota-kota di kawasan pinggiran Jakarta akan selalu saling terkait dan memberikan dampak yang saling mempengaruhi. Tantangan dalam pengelolaan sampah bersama terletak pada kesediaan kota pinggiran ini untuk menggunkan lahannya untuk pengolahan sampah yang bisa jadi diprotes oleh masyarakat sekitarnya. Kemauan politik antar pemerintah kota harus ada sebab jika tidak makan sampah akan selalu menjadi masalah yang tak kunjung bisa diselesaikan.

Photo: christophe thillier

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1511
Permalink to this post: http://urb.im/ca1511jki