Bajaj sebagai alternative Transportasi Publik Perkotaan

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 22 April 2016

Bajaj merupakan salah satu kendaraan ikonik di Jakarta. Dengan roda tiganya dan ukuran yang relative kecil membuat Bajaj menjadi salah satu kendaraan favorit masyarakat Jakarta ketika harus menembus kemacetan. Kejayaan bajaj di masa lalu kian pudar karena makin banyaknya kendaraan pribadi dan motor yang memadati jalanan. Bajaj menjadi salah satu penyebab buruknya polusi udara. Namun demikian keberadaan bajaj masih dianggap penting karena jumlahnya yang masih signifikan dan pengguna yang cukup banyak. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk melakukan peremajaan bajaj dengan mengkonversi bahan bakar premium menjadi gas. Selain itu, promosi penggunaan bajaj sebagai alternative tranportasi umum jarak dekat di dorong melalui pembuatan aplikasi online.

Dimasa lalu, bajaj merupakan awal modern keberadaan transportasi umum di Jakarta menggantikan becak yang kerap dianggap sebagai sumber kemacetan. Bajaj yang diimpor dari India, mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1975 dan dianggap lebih sesuai untuk kota metropolitan dan modern. Saat ini jumlah bajaj terus berkurang. Diperkirakan masih ada sekitar 14.000 bajaj yang beroperasi di Jakarta.

Peremajaan bajaj telah dilakukan selama tiga tahun terakhir dengan mengganti bajaj berbahan bakar premium , dikenal dengan bajaj oranye, menjadi berbahan bakar gas (BBG). Pada tahun 2015 sendiri terdapat 7.000 bajaj oranye yang ditarik pemerintah untuk dihancurkan dan digantikan dengan bajaj BBG atau kerap disebut bajaj biru. Program peremajaan bajaj ini dilakukan memberikan bantuan kemudahan kredit bagi pemilik bajaj lama yang ingin mengganti bajajnya. Bantuan kredit diberikan oleh Pemprov DKI bekerjasama dengan Bank DKI. Hingga saat ini sudah ada 6.000 unit bajaj biru beredar di jalanan Jakarta.

Konversi menjadi bahan bakar gas dianggap lebih menguntungkan sebab bisa menekan biaya operasional. Rata-rata sopir bajaj oranye mengeluarkan uang untuk bensin sebesar Rp. 80.000 per hari, namun kini perhari hanya mengeluarkan biaya Rp. 15.000,- untuk gas. Selain itu para pemilik Bajaj BBG mengaku bahwa kerusakan kendaraan sangat kecil dibanding ketika menggunakan Bajaj oranye. Selain itu, para pemilik Bajaj BBG juga dibekali dengan kemampuan mekanik mesin bajaj sehingga mereka bisa memperbaiki secara mandiri untuk menekan biaya perawatan. Pelatihan ini diberikan oleh Perusanaan Gas Negara dan diikuti oleh Komunitas Bajaj Gas (Kobagas).

Disadari bahwa penggunaan bajaj kian berkurang dikarenakan stigma bajaj sebagai penyebab kemacetan dan sebagai alat transportasi masyarakat kelas bawah maka bajaj dianggap kotor dan berisik. Namun kini dengan bajaj BBG diharap masyarakat bisa lebih memaksimalkan penggunaan bajaj dan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, terutama untuk perjalanan jarak dekat. Bajaj kini juga mengikuti perkembangan jaman dengan membuat aplikasi online android bernama 'BajajApp' yang bisa diunduh melalui playstore. Sebagaimana halnya aplikasi online lain seperti Gojek atau Grabbike, maka Bajaj aplikasi ini tidak perlu lagi tawar menawar dan cukup memasukkan alamat penjemputan dan tujuan. Aplikasi ini juga memuat kolom tips yang bisa diberikan oleh calon penumpang. Inovasi lain adalah adanya asuransi gratis dengan jaminan maksimal sebesar Rp 100.000 jika terjadi kecelakaan. Saat ini diperkirakan telah ada 10.000 sopir bajaj yang bergabung dalam sistem ini dan mereka tersebar di wilayah DKI dan beroperasi 24 jam.

Upaya peremajaan dan inovasi bajaj cukup memberikan angin segar bagi penduduk Jakarta dan terutama sopir bajaj. Namun demikian masih banyak tantangan yang dihadapi seperti ketersediaan infrastruktur stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang masih jarang dan jarak cukup jauh sehingga meyulitkan pemilik bajaj. Sementara itu tantangan aplikasi online bajaj terletak pada adanya kemungkinan konflik dengan bajaj yang mangkal.

Photo: Edna Nasution

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1604
Permalink to this post: http://urb.im/ca1604jki