Mural sebagai bentuk Seni Urban dan Perlawanan Sosial

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 19 August 2016

Mural merupakan salah satu bentuk seni lukis yang menggunakan media dinding, tembok atau permukaan luas lainnya yang bersifat permanen. Kebanyakan mural dilakukan di ruang publik yang bertujuan untuk mendidik dari sisi visual. Selama ini media untuk menyampaikan opini atau gagasan kerap melalui media cetak dan elektronik. Namun demikian, masyarakat juga membutuhkan media yang komunikatif dan efektif untuk menyampaikan opini. Seni mural pada awalnya hadir di Indonesia pada jaman perang kemerdekaan dimana lukisan di dinding dibuat sebagai bentuk ekspresi perlawanan yang dilakukan secara diam-diam. Kini mural telah telah menjadi bagian luas dari masyarakat bukan hanya sebagai media penyampai aspirasi namun juga media perlawanan sosial. Surabaya memiliki komunitas Serikat Mural Surabaya yang aktif menggunakan seni mural sebagai bagian dari perlawanan ini secara visual.

Serikat Mural Surabaya (SMS) merupakan pelopor mural di Surabaya. Komunitas ini merupakan gabungan dari kelompok street art (baik graffiti maupun mural) yang ada di Surabaya dan Sidoarjo yang sepakat untuk membentuk komunitas berbasis seni visual jalanan. Komunitas ini bersifat terbuka baik individu maupun kelompok yang memiliki semangan perlawanan khas visual jalanan. Mereka yang tergabung dalam SMS memiliki beragam profesi seperti pelajar, karyawan, pekerja kantor, desainer, illustrator, seniman dan sebagainya. Mereka secara aktif melakukan mural di Jalanan dan memberikan dampingan terhadap pelaku street mural lainnya dan bekerja dengan kampung-kampung di Surabaya untuk aktivitas mural.

Serikat Mural Surabaya memiliki banyak kegiatan mingguan seperti membuat karya-karya mural atau street art di jalanan dan ruang publik lainnya bersama dengan komunitas mural maupun masyarakat kampung sasaran. Kebanyakan kerja SMS berkolaborasi dengan lintas komunitas seperti WPAP chapter Jatim, Cukil Kayu dan komunitas mural dan kreatif lainnya di Surabaya. Selain itu SMS juga aktif mengadakan pameran seperti urban dan street art, membuat kompilasi seni yang kemudian di cetak serta membuat buku atau stiker sebagai buah tangan.

Serikat Mural Surabaya juga aktif mengajarkan mengenai mural melalui forum-forum diskusi, workshop dan pendampingan terhadap para pelaku street art mural. Kegiatan terakhir yang baru saja mereka kerjakan adalah Bamboo Mural Festival yang merupakan kerja bersama dengan warga kampung keputih timur gang pompa air. Festival ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya menggabungkan seni dan inisiatif sosial dimana hasil mural yang dilukis diatas bamboo akan dijual dan hasilnya disumbangkan dan digunakan kepada warga kampung urban. Aktivitas ini merupakan kerjasama antara SMS, Padepokan Cokroaminoto, perkumpulan boemi poetra, sekolah rakyat dan semua warga kampung.

Ibu Risma sendiri sebagai walikota Surabaya menyambut baik fenomena mural di kotanya. Menurut beliau seni mural dapat dijadikan destinasi wisata dan mempercantik kota. Hal ini merupakan pernyataan positif yang berbeda dari kebijakan walikota sebelumnya yang kerap menangkap pelaku seni mural dan membubarkan secara paksa ketika mereka melakukan mural. Sinyal positif ini diterima dengan baik oleh kawan-kawan komunitas mural di Surabaya. Namun demikian masih banyak kekhawatiran jika ini hanya merupakan lip service pemerintah dan tanpa melibatkan mereka dalam perencanaan dan pelaksanaannya karena bagaimanapun seni mural sudah memiliki sejarah sendiri di kota dan dikhawatirkan kebijakan ini akan justru menurunkan fungsi mural sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan bukan melulu tentang mempercantik kota.

Photo: Proble Matikx‏

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1608
Permalink to this post: http://urb.im/ca1608sui