Pembangunan Kawasan Gerbangkertasusila Mempertimbangkan Kondisi Sosial Ekonomi Spasial

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 24 November 2015

Urbanisasi memberikan dampak yang signifikan dalam perkembangan perkotaan baik positif maupun negatif. Perkembangan kawasan perkotaan akibat urbanisasi di Surabaya dalam skala yang besar telah memperngaruhi kota-kota disekitarnya yang kerap disebut dengan Gerbangkertasusila Plus (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Jombang dan Pasuruan). Kawasan ini terpisah secara administratif, namun secara fisik, ekonomi dan sosial menyatu akibat perkembangan ekonomi kota Surabaya. Pertumbuhan industri di metropolitan Surabaya mendorong beberapa kota pinggiran mengalami perkembangan pesat. Namun demikian beberapa kota belum memiliki manajemen perkotaan baik sebab belum mempertimbangkan perkembangan sosial ekonomi dan spasialnya dalam proses perencanaannya.

Perkembangan Kota Surabaya kearah pinggiran ditunjukkan dengan pertumbuhan pesat kota-kota yang berbatasan langsung. Misalnya kawasan perbatasan Surabaya–Mojokerto merupakan daerah dengan aktivitas industri cukup pesat. Akibatnya wilayah tersebut mengalami peralihan fungsi dari lahan pertanian atau tambak menjadi perumahan dan industri sehingga urbanisasi terjadi secara cepat seiring dengan perkembangan industri di kota Surabaya. Ini apa yang kita sebut dengan spill-over effect. Proses industrialisasi ini membutuhkan tenaga kerja yang berasal dari luar wilayah kota sehingga beberapa koridor kian padat penduduknya. Akibatnya Kota sekitar yang menerima efek spill-over juga harus menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi.

Pengelolaan kawasan Gerbangkartasusila plus sebagai kawasan mega urbanisasi perlu dilakukan secara terpadu agar perencanaan lebih sensitive terhadap kebutuhan daerah dan pelaksanaannya perlu diterjemahkan ke dalam rencana sektoral dengan memperhatikan keterpaduan wilayah yang meletakkan Surabaya sebagai kota utama. Dinamika sosial ekonomi dan spasial yang berbeda antar kota memerlukan sebuah pendekatan fisik dan non-fisik dalam pengendalian perkembangan kawasan. Pendekatan non fisik misalnya pada tersedianya kebijakan yang lintas sektoral, ramah lingkungan dan menyeimbangkan kepentingan antara swasta, pemerintah dan masyarakat; proses perencanaan yang memperhatiakan aspek spasial dan a-spasial; tata ruang yang terintegrasi dengan lingkungan hidup dan bersifat berkelanjutan serta berorientasi masa depan, proses perijinan yang efektif, efisien dan berkeadilan serta perlunya insentif dan disinfektif.

Sementara itu pengendalaian perkembangan kawasan secara fisik diperlukan adanya dukungan prasarana yang terhubung antar kabupaten/kota seperti tersedianya Mass Rapid transportation system dan fasilitas lain yang lintas kota/kab. Selain itu juga dibutuhkan pembangunan infrastruktur dan fasilitas skala regional. Pertimbangan terhadap potensi ekonomi dan lingkungan hidup diperlukan sebagai bahan analisa pola perkembangan yang terjadi di kawasan gerbangkartasusila plus. Koordinasi antar kota juga penting untuk mengetahui keterkaitan antar kawasan. Pemkot Surabaya memegang peran kunci dalam mengawasi pembangunan antar kawasan ini. Close.

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1511
Permalink to this post: http://urb.im/ca1511sui