Promosi Budaya Berjalan Kaki di Surabaya

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 5 April 2016

Sangat sedikit kota di Indonesia yang memiliki perhatian terhadap budaya berjalan kaki masyarakatnya. Hal ini tercermin dari buruknya kualitas trotoar di banyak kota tak terkecuali di Surabaya. Ditambah cuaca yang cukup panas menyebabkan warga kota Surabaya lebih memilih memiliki sepeda motor maupun mobil pribadi untuk mobilitas dalam kota sehingga sangat jarang ditemui orang berjalan kaki di Surabaya. Dalam hal ini terdapat dua inisiatif menarik yang dapat kita lihat yaitu pada level Pemkota Surabaya dimana mereka sedang giat-giatnya mempercantik trotoar.Sementara itu, pada tingkat masyarakat terdapat kesadaran akan ketiadaan budaya jalan kaki sehingga muncullah ide untuk membuat program jalan kaki bernama Manic Street Walkers (MSW). Komunitas ini mengajak warga untuk menyukai berjalan kaki dengan menyelusuri kota Surabaya. Kedua inisiatif ini saling berkaitan dan diharapkan mampu menciptakan budaya berjalan kaki di Surabaya.

Kondisi trotoar di Surabaya cenderung buruk dalam arti masih banyak ditemui trotoar yang rusak, berlubang, penuh sampah menumpuk dan banyak pedagang meskipun telah dipasang tanda dilarang berjualan di trotoar. Beberapa tahun terakhir, pemkottelah melakukan banyak perbaikan atas trotoar dan saluran air. Trotoar kini telah dipercantik menggunakan marmer, ukurannya diperlebar dan ketinggiannya ditambah sehingga motor tidak naik dan mengambil alih fungsi trotoar. Perbaikan ini terutama banyak dilakukan di jalan-jalan utama Surabaya seperti Jalan Raya Darmo, Basuki Rachmad, Raya Gubeng, Panglima Sudirman, dan kawasan Jembatan Merah. Selain mempercantik trotoar, perbaikan saluran air sekaligusakan mengurangi resiko banjir. Dukungan dana pemerintah cukup besar sejak tahun 2012 yang mencapai 15 miliar dan jumlah ini diharapkan terus meningkat tiap tahunnya.

Sementara itu pada tingkat masyarakat telah muncul komunitas yang aktif melakukan kampanye jalan kaki sebagai bagian untuk mengenal dan wisata kota yaitu Manic Street Walkers (MSW). MSW pada awalnya merupakan sebuah program yang dijalankan oleh C2O library & collaborative mulai akhir tahun 2011. Inisiatif ini berasal dari fakta buruknya kualitas transportasi publik di Surabaya sehingga berjalan kaki merupakan alternative yang baik dibandingkan jika harus membeli kendaraan pribadi.Selain itu, jalanan di Surabaya landai sehingga memudahkan mobilitas. Pendiri MSWjuga melihat Surabaya sebagai kota sejarah yang berusia 700 tahun sehingga akan banyak sekali yang bisa dipelajari dengan berjalan kaki keliling kota. Pengalaman yang seru dan menyenangkan adalah hal yang ingin ditawarkan MSW. Kegiatan jalan bersama keliling kota ini dilaksanakan paling tidak dua kali dalam satu bulan dengan tema yang berbeda misalkan historia, kampung lama, pecinan, kampung arab dan sebagainya. Sebelum membuat jalan kaki tematik ini, biasanya ada tim yang akan melakukan riset terlebih dahulu tentang budaya, sosial, politik dan lain-lain kemudian bisa dilakukan kolaborasi dengan sejarawan, arsitek, designer dan ahli kuliner untuk membuat program jalan kaki yang menarik.

Surabaya saat ini memiliki walikota dengan perhatian cukup tinggi terhadap konsep pembangunan yang berkelanjutan sehingga upaya pengembangan kota yang mendorong perbaikan lingkungan akan selalu didukung seperti halnya perbaikan trotoar sekaligus lorong air. Namun demikian bentuk komitmen tersebut harus didukung juga oleh aparat pemerintah di SKPD. Sementara itu pada tingkat komunitas, tantangan yang cukup besar adalah menumbuhkan kecintaan dan kesadaran masyarakat Surabaya untuk berjalan kaki sehingga mereka menyadari kekayaan sekaligus permasalahan sosial yang ada di dalam kota yang mereka tinggali.

Photo: Manic Street Walkers

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1604
Permalink to this post: http://urb.im/ca1604sui