Melibatkan sektor informal dalam promosi wisata kuliner

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 18 July 2016

Keberadaan (PKL) sering dianggap memperburuk wajah perkotaan sehingga harus disingkirkan karena menodai keindahan sebuah kota. Atas nama perencanaan kota, orang-orang yang bekerja di sektor informal harus menerima tindakan penertiban berupa pembongkaran warung, relokasi, razia, dan pengusiran yang kerap dilakukan dengan kekerasan. Kebebasan melakukan aktivitas ekonomi menjadi terenggut dan yang miskin menjadi semakin miskin. Keberadaan PKL di wilayah kota memang memerlukan penataan khusus. Strategi yang dilakukan Surabaya dapat dijadikan contoh dan acuan untuk mengelola sektor informal perkotaan. Pemkot Surabaya mengorganisir PKL penjual makanan, dikemas sedemikian rupa dan menjadikan mereka sebagai tujuan wisata kuliner di Surabaya.

Surabaya merupakan salah satu pintu gerbang perdagangan utama di wilayah Indonesia Timur. Dengan lokasi geografis yang strategis, Surabaya memiliki potensi ekonomi yang besar dan kerap mendapat julukan sebagai kota perdagangan dan ekonomi. Secara infrastruktur ekonomi, Surabaya merupakan kota yang kondusif terhadap iklim usaha. Dukungan terhadap ekonomi kerakyatan juga cukup jelas misalnya dari sisi pemberdayaan ekonomi bagi usaha kecil menengah (UMKM). Jumlah UMKM dan koperasi juga terus bertambah. Hal ini menunjukkan adanya geliat ekonomi masyarakat di tingkat bawah yang kian membaik. UMKM ini diharapkan mampu menyerap Tenaga kerja yang cukup besar. Bagaimana kemudian nasib PKL di Surabaya?

Jumlah PKL menurut data Bagian Perekonomian Pemkot Surabaya tahun 2005 saja jumlah PKL mencapai 70 ribu orang lebih, dan jumlah ini terus bertambah tiap tahunnya. Untuk itu sejak 2004, pemkot telah menunjukkan dukungannya dengan membuat sentra PKL sebagai upaya penataan PKL. Hingga tahun 2014, menurut Dinas Koperasi dan UMKM telah membangun 495 titik sentra PKL. Sentra PKL merupakan kumpulan pedagang makanan yang menempati lokasi khusus yang disediakan pemerintah. Sentra ini juga membentuk kepengurusan untuk membuat lokasi lebih nyaman dan teratur. Untuk memastikan makanan yang disajikan, dinas kesehatan pun turun tangan untuk memeriksa makanan yang dijual.

Sektor pariwisata menjadi perhatian utama pembangunan sebab sejak tahun 2005 telah terjadi pergeseran pertumbuhan ekonomi kota yang sekarang lebih mengarah ke perdagangan dan jasa. Secara geografis, Surabaya juga sangat strategis yang berpotensi mendatangkan turis domestic maupun asing. Oleh sebab itu salah satu strategi pemkot adalah menjadikan sentra-sentra PKL sebagai tujuan pariwisata terutama wisata makanan. Makanan lokal di Surabaya telah menjadi ikon kota yang menjanjikan kelezatan dan cita rasa yang khas. Dalam konteks pariwisata, makanan ini menjadi faktor penarik wisatawan untuk datang menikmati makanan dan jajanan ala Surabaya.

Penyediaan ruang khusus bagi para PKL ini diharapkan mampu mendorong kreativitas, inovasi dan kepercayaan diri pedagang di sector informal untuk mengembangkan usaha makanan local dan bersaing dengan makanan impor yang kini menggempur kota-kota besar. Untuk meningkatkan kualitas PKL ini, pemkot juga memberikan pembinaan berupa pelatihan cara menjaga kebersihan, keindahan dan ketertiban lokasi; mendorong pembentukan koperasi untuk bantuan modal; pelatihan manajemen usaha; dan penyuluhan peraturan pemerintah terkait aktivitas PKL sehingga mereka tidak lagi melanggar aturan ketika berdagang.

Kebijakan mendorong wisata kuliner ini terbukti di satu sisi membantu memberdayakan ekonomi masyarakat miskin kota dengan tetap mengijinkan mereka berdagang dan disisi lain sentra PKL menjadi strategi untuk mewujudkan Surabaya yang tertib, indah dan asri. Tantangan yang utama adalah membuat perencanaan yang strategis dalam menempatkan sentra-sentra PKL sehingga tetap ramai pengunjung.

Photo: Jim (yumievriwan)‏

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1607
Permalink to this post: http://urb.im/ca1607sui