Memberdayakan Warga Pinggir Kali untuk Ketahanan Bencana

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 14 September 2016

Dalam pandangan para perencana kota, masyarakat yang tinggal di pinggir kali kerap dianggap menjadi subyek penyebab kotornya sungai dan kumuhnya wilayah sekitar kali sehingga mengurangi fungsi sungai tersebut dan rawan penyakit. Selain itu adanya stigma bahwa masyarakat pinggir kali itu kotor, kumuh dan illegal, sehingga penggusuran kerap menjadi jawaban untuk menjustifikasi pemindahan masyarakat pingir kali karena alasan banjir, kumuh, mencegah penyebaran penyakit dan penataan sungai dan kota. Secara umum masyarakat yang tinggal di kampung-kampung pinggiran kali memiliki karakteristik yang berbeda dengan mereka yang tinggal di kampung dipusat kota. Masyarakat di pinggi kali misalnya memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap terjadinya banjir atau abrasi. Secara ekonomi mereka juga rentan karena permukiman mereka jauh dari pusat kota yang menjadi sumber mata pencaharian mereka yang kebanyakan bekerja di sector informal. Ketahanan terhadap bencana, perubahan sosial dan ekonomi menjadi penting. Belajar dari masyarakat Stren Kali kita akan mengetahui bahwa masyarakat pinggir kali pada dasarnya mampu secara mandiri mengelola dan menjaga kelestarian lingkungan dan sungai tanpa bantuan pemerintah dan tanpa penggusuran paksa.

Kampung Strenkali Surabaya, menurut Gatoto Subroto, salah seorang coordinator di PWSS, terbentuk lantaran derasnya arus urbanisasi yang dimulai sejak tahun 1945 karena bantaran kali Surabaya masih longgar dan mereka memanfaatkannya untuk membangun gubuk yang berkembang menjadi permukiman semi permanen dan permanen. Sekitar tahun 2007 terbit peraturan daerah jawa timur yang bermaksud menggusur perumahan tersebut namun mendapat perlawanan yang cukup keras dari masyarakat Strenkali.

Warga Strenkali Surabaya pada dasarnya cukup terorganisir dalam sebuah wadah Paguyuban Warga StrenKali Surabaya (PWSS). Mereka berusaha merubah mindset mengenai relokasi menjadi pembangunan kembali dengan mengorganisir masyarakat pinggir kali dan mengembangkan proposal tandingan yang menunjukkan bahwa banjir dapat dicegah dengan partisipasi aktif masyarakat bantaran kali dan pembangunan kota dapat dilakukan tanpa harus proses relokasi tapi cukup dengan meng-upgrade perumahan warga.

PWSS kemudian dengan aktif melakukan berbagai pemetaan dan kajian tentang tata ruang, hidrologi, ekologi, legal, ekonomi, social, sanitasi yang kemudian dianalisa dan dirumuskan bersama dalam solusi-solusi ketahanan terhadap tantangan bencana, sosial dan ekonomi. Proses ini melibatkan warga, para pakar hidrologis sungai, arsitek, akademisi, dan tokoh masyarakat. Hasilnya kini, masyarakat Strenkali Surabaya memiliki rencana kerja lima tahunan untuk upgrade perumahan mereka dan bekerjasama dengan pemerintah untuk membersihkan sungai dan menyediakan jarak antara sungai dan rumah tanpa harus menggusur warga.

Proses penataan kembali kampung berisi beragam aktivitas seperti memotong rumah yang berada tepat dipinggiran kali, membuat jalan inspeksi 3-5 meter, rumah menghadap sungai, mengelola lingkungan dan menjaga kebersihan, sanitasi, social dan ekonomi warga. Pada proses inilah kemudian lahir Konsep Jogokali. Sebuah konsep menjaga lingkungan sekitar sungai dan masyarakatanya agar tercipta ketahanan masyarakat dari berbagai aspek. Dari sisi ekonomi mereka telah membuat Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan tabungan kelompok. Mereka juga membentuk Kelompok Belajar Anak (KBA), mengadakan senam kesehatan alami, festival Larung Sungai yang biasanya dilaksanakan di waktu yang sama dengan peringatan hari Habitat di bulan Oktober. Peningkatan kapasitas masyarakat juga menjadi agenda PWSS terutama terkait kesiagaan bencana, sanitasi, penataan kampung dan skill lain yang dibutuhkan.

Masyarakat strenkali Surabaya pada dasarnya merupakan contoh dari pengelolaan wilayah bantar kali tanpa harus mengorbankan masyarakat yang sudah berpuluh tahun menempati wilayah tersebut dan memiliki ikatan social yang kuat. Justru dengan memanfaatkan sumberdaya yang telah ada pada masyarakat pinggir kali, pemerintah memperoleh manfaat dari terjaganya kali dari banjir dan longsor serta masyarakat yang terberdayakan secara social dan ekonomi. Tantangannya adalah pemerintah perlu melihat ini sebagai praktik baik dan mendukungnya serta perlunya perubahan mindset mengenai penggusuran.

Photo: Ken Marshall

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1609
Permalink to this post: http://urb.im/ca1609sui