SDGs dan Agenda Perkotaan – dari Kesepakatan Global Menuju Aksi Lokal

Forum-forum diskusi (side events) dalam Pertemuan Regional Habitat III di Jakarta dilaksanakan secara parallel. Salah sat diskusi yang menarik bertema SDGs dan Agenda Perkotaan – dari Kesepakatan Global Menuju Aksi Lokal (The SDGs and The New Urban Agenda: From Global Agreements to Local Action). Forum ini diselenggaarakan oleh UNEP, UN-Habitat dan Kemitraan Habitat. Diskusi dimoderatori oleh Mariko Sato dari Un Habitat Bangkok serta sambutan dari Ibu Erna Witoelar dari Kemitraan Habitat. Pada dasarnya dijelaskan bahwa kota berfungsi sebagai mesin untuk mendorong pertumbuhan perkotaan yang berkelanjutan. Saat ini sudah 50% penduduk bertempat tinggal di kota dan di proyeksika tahun 2050 kota akan ditempat 80% dari total populasi. Dalam SDGs yang baru disepakati, terdapat 17 tujuan termasuk tujuan khusus untuk perkotaan yang terdapat di Tujuan 11 "Make cities and human settlements inclusive, safe, resilient and sustainable."

Proses Habitat III adalah untuk menemukan agenda perkotaan baru dan pada saat yang sama mengajak kota lebih berperan aktif dalam isu perubahan iklim. Oleh karena itu diskusi pada sesi ini lebih menekankan pada peran dan tantangan kota dan pemerintah daerah mampu menggerakkan sumberdaya di daerah untuk menjawab tantangan global saat ini. Mary Jane Ortega, APUF 6 Chairman, memiliki cara khusus agar publik mudah mengingat 17 tujuan dalam SDGs yang baru saja disepakati yaitu dengan membuat rangkaian cerita yang bisa dinyanyikan. Menurutnya dengan demikian akan memudahkan internalisasi tujuan-tujuan dalam SDGs. Selain itu radio komunitas juga memiliki peran penting agar orang mudah memahami SDGs.

Sementara itu, Marco Kusumawijaya menyatakan bahwa yang paling penting adalah manusianya. Manusia harus menjadi pusat dari pembangunan. Menurutnya ada dua hal utama yang menjadi tantangan kota, yaitu: menciptakan mekanisme partisipasi yang sesungguhnya pada semua level pemerintahan dimana masyarakatlah yang secara mandiri mendefinisikan permasalahan mereka dan memberikan solusi. Mereka perlu diberikan ruang dan kebebasan untuk menjalankannya. Manusia bukanlah permasalahan namun menjadi solusi. Kedua, diperlukannya system keuangan (financial syatem) yang mengijinkan dan memberikan kebesasan bagi masyarakat untuk mengelola keuangan. Menurut Marco ada urgensi untuk mendorong pembangunan berbasis masyarakat (people driven development) dengan memperhatikan aspek lingkungan dan mengurangi efek kerugian lingkungan akibat proses industrialisasi.

Mariko Sato menekankan pentingnya solusi kratif yang perlu di dukung. Praktik baik dari dunia internasional dipilih yang sesuai dengan kondisi lapangan, kemudian dinaikkan skalanya (upscale). Pembicara dari Menteri Perumahan dan Urusan Pembangunan Perkotaan Afghanistan, Mr Abdul Khaleq Nemat menyampaikan bahwa partisipasi masyarakat sangat vital dalam proses perkembangan kota. pertanyaan selanjutnya yang penting adalah bagaimana tiap Negara menerima dan menerapkan SDGs dan Urban Agenda dalam perencanaan pembangunannya.

Pernyataan dari perwakilan Bappenas, Ibu Hayu Parasati juga menarik untuk dicermati. Hayu pada dasarnya menyataka bahwa semua tujuan dalam SDGs memiliki komponen yang menarik orang datang ke kota, sehingga kita perlu bekerja dengan mereka terutama yang berada di level grassroot untuk mengetahui permasalahan mendasar dan menemukan solusi bersama mereka. Marco kemudian menambahkan bahwa ketika kita datang ke level bawah jangan membawa tujuan-tujuan SDGs namun tanyakanlah apa permasalahan mereka dan apa SDGs versi mereka. Pada akhir sesi Mary Jane Ortega menegaskan bahwa bukan saatnya lagi kita bekerja sendiri (in silo) namun kerja bersama dengan pendekatan yang lebih holistik. Pemerintah nasional dan organisasi internasional juga perlu lebih sensitive dalam memberikan bantuan keuangan maupun pendampingan.

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.