Crowdsourcing (kumpul daya) untuk atasi masalah Jakarta

Julisa Tambunan, Jakarta Community ManagerJulisa Tambunan, Jakarta Community Manager

Jakarta bukan tak punya ahli perkotaan. Banyak arsitek, perencana kota, maupun peneliti sosial yang peduli tentang kota ini. Sejumlah penelitian dan usulan perencanaan banyak bermunculan dari kalangan akademis. Masalahnya, bagaimana menjembatani mereka yang berada di "menara gading", istilah untuk para penghuni universitas, dan mereka yang berada di akar rumput? Bagaimana mengkomunikasikan ide-ide yang muncul dari benak para ahli dan mempraktekkannya agar bisa membuat Jakarta menjadi lebih inklusif bagi semua warganya? Rujak Center for Urban Studies (RCUS) mengusulkan crowdsourcing.

Banyak data belum tentu banyak solusi

Semangat untuk membuat Jakarta menjadi lebih baik dan lebih ramah bagi warganya melalui jalur akademis dengan pakem-pakem empirisnya tentu sangat dibutuhkan. Kaum intelektual memiliki banyak modal untuk membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan Jakarta dan menjangkau warga miskin.

Jika bertandang ke sejumlah lembaga peneliti di Jakarta, baik independen maupun yang berada di bawah universitas, jangan terkejut jika Anda menemukan banyak sekali penemuan berharga mengenai kota ini. Penemuan tersebut bukan informasi sembarangan, melainkan sejumlah penelitian yang berisi data komprehensif dan juga menawarkan solusi, mulai dari masalah tanah dan perumahan, sampah dan banjir, air dan sanitasi, sampai sektor perekonomian informal yang merupakan sendi-sendi Jakarta. Meski demikian, berbagai informasi tersebut tampak tak terjamah, tersusun rapi di rak buku.

Tak jarang juga para arsitek dan perencana perkotaan menyelenggarakan konferensi dan seminar yang membahas kondisi perkotaan, khususnya Jakarta, lalu menawarkan solusi inovatif dari permasalahan yang ada, terutama yang bersangkutan dengan kondisi warga miskin Jakarta. Namun, apakah teknik-teknik baru dan inovatif yang dihasil seminar tersebut mampu berkelana lebih jauh dari ruang tertutup di mana acara tersebut diadakan? Atau rencana menjadi tinggal wacana karena ide tidak dikomunikasikan dengan baik melalui wadah yang tepat?

Mengumpulkan daya dari sumber informasi terpadu

Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bukan satu-satunya "think tank" di Jakarta. Banyak kelompok pemikir lain yang telah menghasilkan banyak penelitian dan usulan yang kemudian dimanfaatkan oleh berbagai organisasi implementer. Meski demikian, nampaknya RCUS yang terdiri dari sejumlah praktisi, arsitek, perencana dan peneliti kawakan yang telah tahunan berkecimpung di dunia perkotaan ini memiliki strategi baru yang cukup menarik.

Digawangi oleh Marco Kusumawijaya, RCUS bersikeras bahwa jika masyarakat, utamanya kelas menengah, memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kota Jakarta, maka mereka akan menjadi jembatan yang tepat antara hasil penelitian dan prakteknya, demi menjadikan Jakarta sebagai kota yang merata bagi semua warganya. RCUS berpendapat bahwa tidak ada cara normatif dalam merancang kota. Namun, adanya gap dalam pengetahuan menyebabkan terjadinya peminggiran atau eksklusifitas, kurangnya imajinasi, serta homogenisasi. Pengetahuan yang benar dan merata adalah cikal-bakal perubahan. Jika pengetahuan tentang kota disebarluaskan, maka kota jadi miliki semua, tidak ada lagi eksklusifitas. Dengan mengorganisasikan para intelektual dalam satu wadah, warga memiliki kesempatan untuk memiliki pengetahuan yang benar mengenai Jakarta dan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Dengan adanya informasi yang cukup, maka tiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan solusi bagi permasalahan kota Jakarta.

Jadi, yang dimaksud dengan crowdsourcing oleh RCUS adalah situasi di mana stimulus, yaitu informasi yang benar dan bermanfaat akan mereka sediakan dan sebarluaskan sebisanya, kemudian crowd atau warga Jakarta-lah yang memutuskan bagaimana cara meresponsnya secara tepat. RCUS pun menggiatkan berbagai saluran untuk menyebarluaskan berbagai data dan hasil peneliatian yang mereka punya agar bisa dijangkau oleh masyarakat umum.

Melalui Rujak Wiki (wiki.rujak.org) yang baru saja dirilis awal Juli 2012 ini, RCUS memasukkan berbagai informasi bermanfaat mengenai jakarta dalam kurun waktu tahun 1998 hingga tahun 2012. Rujak Wiki merupakan ensiklopedia terbuka yang memiliki cara kerja serupa dengan Wikipedia. Di dalamnya, bisa ditemukan semua peraturan kota atau regulasi yang berlaku di Jakarta. Bisa juga ditemukan kliping-kliping berita mengenai sejumlah peristiwa penting, seperti kerusuhan massa tahun 1998, ataupun penggusuran besar-besaran tahun 2002. Tak hanya itu, berbagai artikel hasil produksi RCUS yang mengedukasi seperti privatisasi air perkotaan, invasi minimarket, ruang publik bahkan wisata kuliner pun dapat ditemui di sini.

Cara lain yang juga ditempuh oleh RCUS adalah dengan berusaha memobilisasi kelas menengah melalui klikJkt (klikjkt.or.id). Dengan prinsip jurnalisme rakyat (citizen journalism), situs ini menggalang berbagai laporan dari warga mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka, mulai dari pohon tumbang, genangan, sampai kerusuhan. Warga juga dapat mengirimkan tweet di Twitter dengan pagar #klikJkt di belakang setiap laporannya. Semua laporan tersebut akan dikompilasi oleh RCUS dan diadvokasikan ke pihak-pihak yang terkait.

RCUS juga melaksanakan kegiatan-kegiatan offline seperti Tur Sampah ke tempat pembuangan sampah akhir kota Jakarta di Bantargebang, atau sekadar workshop kecil di tempat-tempat yang strategis untuk saling berbagi pengetahuan dengan target peserta masyarakat awam.

Tantangan dan kesempatan

Ide menjembatani para penggiat intelektual agar bisa bermanfaat secara maksimal dalam membangun Jakarta yang inklusif melalui crowdsourcing ini cukup mendapatkan tanggapan positif. Sejumlah event yang diadakan RCUS cukup ramai pengunjung. Telah banyak juga pengguna Twitter yang memasukkan pagar #klikJkt ke dalam tweet-nya, meski inisiatif ini baru saja bergulir. Salah satu inisiatif sederhana yang muncul dari hasil crowdsourcing rintisan RCUS adalah gerakan @jalankaki, yang dibentuk oleh salah seorang warga Jakarta untuk merespons masalah transportasi.

Meski demikian, tetap tak mudah untuk "membangunkan" kelas menengah dan memobilisasi mereka untuk melakukan perubahan. "Sebab mereka punya pilihan, sementara warga miskin tidak", ujar manajer program dari RCUS, Dian Try Irawati. "Tantangan utama kami dalam menggalang Jakarta yang inklusif, selain pemerintah kota yang sangat lambat dalam merespons ide, adalah apatisme kelas menengah. Karena itulah menurut kamu crowdsourcing sagat diperlukan. Supaya jangan hanya intelektual saja yang bicara", ungkap Elisa Sutanudjaja, direktur program dari RCUS, yang juga menambahkan bahwa aktivitas warga kelas menengah di Jakarta yang sangat tinggi di media sosial seperti Twitter merupakan kesempatan yang sangat besar unutk meningkatkan partisipasi warga.

Dian, yang dulunya aktif sebagai bagian dari Urban Poor Consortium (UPC), organisasi yang sangat vokal dalam menyuarakan hak warga miskin Jakarta, juga mengakui bahwa adanya wadah seperti RCUS membuat pemerintah jauh lebih terbuka. "Setelah bergabung di RCUS, lebih mudah berkomunikasi dengan pemerintah. Mereka lebih mau menerima saya ketimbang ketika dulu datang dengan bendera UPC karena RCUS punya embel-embel intelektualitas. Seperti sudah ada stigma di kepala mereka. Karena itu, akan lebih mudah mengadvokasikan ide-ide dari warga", ujarnya.

Submitted by Julisa Tambunan — Tue, 07/10/2012 - 01:00

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Enter the characters shown in the image.