Julisa Tambunan, Jakarta Community Manager
Krisis air di Jakarta makin mengkhawatirkan. Dengan jumlah penduduk mencapai 10 juta orang, suplai air bersih kian tak mampu memenuhi kebutuhan warganya. Air tanah tak layak didulang. Tigabelas sungai yang mengaliri kota tercemar parah. Perusahaan air minum tak menjangkau seluruh area. Setengah penduduk Jakarta yang tercatat miskin malah harus membayar berkali lipat untuk mendapatkan air bersih. Adakah solusi yang masuk akal? "Mendaur ulang" air melalui ekohidrologi cukup menjanjikan. Baca ulasannya di sini.
Ya, Jakarta mengalami krisis air
Jangan salah mengerti, krisis air bukan kekeringan, melainkan kekurangan suplai air bersih karena degradasi lingkungan dan pengelolaan air yang buruk. Dengan posisi geografis yang menguntungkan, ditambah 13 sungai yang mengalirinya dan curah hujan yang cukup tinggi, sebenarnya Jakarta adalah kota dengan persediaan air berlebih. Sayangnya, air tersebut tak layak dikonsumsi. Pencemaran sungai sudah mencapai tahap kritis. Kondisi sanitasi yang buruk mengkontaminasi air tanah.

Akibatnya, pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan peningkatan volume kebutuhan yang tak sebanding dengan ketersedian air di ibu kota. Wakil dari salah satu perusahaan air minum yang beroperasi di Jakarta, PT PAM Lyonnaise Jaya, bahkan menambahkan bahwa sebagian besar pemenuhan air bagi warga Jakarta diambil dari luar Jakarta. Dr. Firdaus Ali dari Indonesia Water Institute mengatakan dengan gamblang, "Saya khawatir tahun 2013 mendatang, Jakarta akan defisit air".
Solusi Ekohidrologi
Sebagai anggota Badan Regulator PAM DKI Jakarta, Dr. Firdaus merasa belum terlambat untuk melakukan revitalisasi sungai di Jakarta yang diiringi dengan pembenahan regulasi pemerintah.
Adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), disokong oleh IHP – UNESCO, yang memulai penelitian mengenai ekohidrologi dan kemungkinan penerapannya di Indonesia, khususnya di daerah perkotaan yang padat atau urban ekohidrologi. Pada tahun 2009, UNESCO dan LIPI mendirikan pusat pengembangan manajemen air atau Asia Pacific Center for Ecohydrology (APCE) di Cibinong, Bogor, sekitar 45 km dari Jakarta. Sampai saat ini, APCE masih giat melakukan berbagai riset mengenai ekohidrologi dan memberikan informasi bagi para pengambil keputusan sebagai alternatif solusi untuk mengatasi krisis air.
Kepala LIPI, Prof. Lukman Hakim M.Sc, Ph.D, menyatakan bahwa ekohidrologi merupakan solusi yang tepat bagi permasalahan krisis air. "Ekohidrologi menemukan solusi permasalahan ketimbang hanya terfokus secara eksklusif pada masalah teknis," ungkapnya. Pendekatan ekohidrologi, menurutnya lagi, diyakini dapat memberikan hasil yang lebih baik dan efektif terhadap kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
Tak mudah untuk menjelaskan konsep ekohidrologi dalam bahasa yang sederhana. Pada dasarnya, ekohidrologi meneliti interaksi antara proses hidrologi dan dinamika biologi atau ekosistem, dalam sejumlah kondisi ruang dan waktu. Dengan pola ekohidrologi, pengelolaan bersifat integratif, lintas disiplin ilmu dan sektor, tidak semata pada teknologi air saja.
Salah satu upaya ekohidrologi adalah mendaur ulang air buangan atau air limbah sehingga dapat digunakan kembali. Air buangan dikumpulkan dalam suatu waduk, kemudian diproses sehingga layak dikonsumsi. Upaya lain adalah revitalisasi waduk penampung dan pembuatan lahan basah buatan. Tak hanya menyediakan suplai air bersih, lahan tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pencegah banjir atau daerah resapan air.
Proyek ekohidrologi yang kini tengah dilaksanakan oleh APCE dan memasuki tahun kedua adalah revitalisasi sungai Citarum, satu dari 13 sungai yang mengaliri Jakarta, bertajuk "Sediment Deposition System on Saguling Reservoir". Proyek ini bertujuan untuk menciptakan lahan basah buatan sebagai penyedia suplai air bersih Jakarta dan sekitarnya.
Penerapan ekohidrologi sejauh ini
Kehadiran ekohidrologi di Indonesia baru sampai dengan tahap penelitian. Namun, upaya merintis ekohidrologi, baik pada skala laboratorium maupun eksperimen di wilayah aliran sungai, merupakan permulaan yang baik dalam inovasi penyediaan air bersih ibukota.
Sejauh ini, kelemahan dari proyek ekohidrologi yang telah dirintis APCE terletak pada kurangnya daya dukung infrastruktur dan riset yang diperlukan agar para peneliti dapat bekerja dengan lebih produktif. Dari banyak penelitian mengenai ekohidrologi yang telah dilakukan oleh APCE, sifatnya masih lokal atau belum dapat direplikasi di tempat lain. Meskipun demikian, dalam tiga tahun terakhir, APCE telah menghasilkan sejumlah riset yang cukup menjanjikan.

Add new comment