Kota dengan Banyak Kesempatan — Studi Kasus Jakarta

Diskusi paralel panel pertama dalam acara New Cities Summit bertemakan City of Opportunity: Case Study on Jakarta dan dimoderatori oleh Joe Cochrane, koresponden International New York Times untuk Indonesia. Panel diisi oleh empat narasumber, dua dari pemerintah yang mewakili Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGuPP) DKI Jakarta dan Kementerian PU. Sedangkan dua pembicara lain mewakili lembaga swasta yaitu dari Bubu.com dan Owings and Merrill LLP. Ibu Sarwo Handayani yang mewakili kota Jakarta menyampaikan bahwa sebenarnya Jakarta memiliki banyak kesempatan dan pada saat yang sama menemui lebih banyak tantangan. Menurutnya, Jakarta telah memulai pembangunan secara ekstensif misalnya daerah waterfront dengan proses reklamasinya, mendorong penggunaan teknologi/ICT, menerapkan konsep smart city, dan bekerjasama dengan sektor swasta dalam hal pembangunan infrastruktur perkotaan.

Pembicara kedua berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum, Lana Widayanti yang menjelaskan bahwa sebenarnya permasalahan Jakarta berasal dari tingginya angka urbanisasi sehingga bermunculan daerah kumuh baru ayng menyebabkan kesulitan mendapat air bersih dan permasalahan sanitasi. Lebih lanjut Lana menyatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini difokuskan pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas komunitas. Selain itu pemerintah juga sedang gencar mendorong green city development program yang diterjemahkan ke dalam program P2KH yang mendorong penciptaan ruang hijau perkotaan.

Narasumber ketiga adalah Peter Kindel yang mendiskusikan infrastruktur di era urbanisasi. Peter memiliki pengalaman konsultansi dengan Kerajaan Bahrain (Kingdom of Bahrain) dimana Bahrain saat itu juga memiliki permasalahan serupa tentang bagaimana merancang infrastruktur di tengah tingginya tingkat urbanisasi. Jakarta menurut Peter memerlukan tiga hal penting yaitu : Satu Rencana (One Plan) yang menyatukan semua perencanaan ke dalam satu program karena saat ini banyak organisasi pemerintah memiliki perhatian yang sama tapi program yang berbeda-beda; mendorong pembangunan yang keberlanjutan untuk masa depan; dan perlunya forum umum agar masyarakat dapat berpartisipasi.

Pembicara terakhir adalah Shinta Dhanuwardoyo yang banyak menekankan penggunaan teknologi untuk mendorong entrepreneurship dan penciptaan kota pintar (smart city) guna memacu pembangunan kota. Selain itu Shinta juga mengingatkan pentingnya local innovation yang melibatkan kearifan lokal (local wisdom) untuk memastikan keberlanjutannya. Untuk itu perlu lebih banyak inkubator sebagai media memicu local innovation

Diskusi yang berkembang dalam forum ini adalah mengenai Jakarta yang memerlukan lebih banyak rumah murah mengingat meningkatnya jumlah pemukiman illegal dan wilayah kumuh. Selain itu perlu pehatian lebih terhadap kapasitas pemerintah lokal tentang kesiapan mereka untuk menyelesaikan masalah urbanisasi. Ide untuk pemerintah bekerjasama dengan sektor swasta banyak disuarakan dalam forum ini karena tidak mungkin pemerintah memiliki semua dana untuk pembangunan sehingga model PPP menjadi alternative untuk pembangunan kota.

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.