Mengurai Kemacetan — Solusi untuk Mobilitas Perkotaan

Sesi diskusi parallel kedua bertema Unclocking the Grid: Solutions for Urban Mobility dan di moderatori oleh Greg Lindsay, senior fellow dari New Cities Foundation. Forum ini memiliki pembicara yang lebih bervariasi dari universitas, perusahaan taxi dan pemerintah. Sesi ini membahas lebih jauh mengenai kemacetan sebagai tantangan utama perkotaan. Greg Lindsay menggarisbawahi kondisi Jakarta yang kian parah kemacetannya dan tampaknya belum terlihat solusi nyata. Greg memberikan pertanyaan dasar kepada Sutanto Soehodho, Deputi Gubernur bidang Perdagangan, Industri dan Transportasi Kota Jakarta mengenai mengapa Jakarta sampai menjadi seperti sekarang. Menurut Soetanto hal ini dikarenakan Jakarta menjadi kota yang sangat tergantung kepada kendaraan pribadi. Terbukti tiap harinya terdapat 300 unit mobil baru dan 1000 sepeda motor baru memadati jalanan, sedangkan jumlah jalanan dan infrastruktur lain tidak bertambah. Namun demikian Soetanto setuju bahwa hak masyarakat akan transportasi umum yang bagus dan murah harus dipenuhi.

Panelis kedua adalah Mohd Azharudin, Direktur Performance and Management Unit, Prime Minister's Department Malaysia. Azharudin menguraikan jawaban atas pertanyaan mengapa Kuala Lumpur sekarang maju dalam hal transportasinya dan pembelajaran apa yang bisa diambil selama prosesnya. Menurut Azharudin hal pertama yang pernah dilakukan untuk memajukan transportasi adalah mengajak semua kementerian terkait untuk bekerjasama, lalu membawa ahli-ahli terbaik, membawa semua sumberdaya yang ada dan ada kolaborasi dengan banyak pihak. Namun demikian yang terpenting adalah komitmen politik (political will) yang kuat untuk menciptakan system transportasi terbaik. Narasumber ketiga adalah seorang ahli transportasi, David Allen dari Bombardier Transportation. David menyatakan persetujuannya bahwa MRT adalah system transportasi yang penting bagi perkotaan, namun MRT bukanlah solusi kemacetan. Ia hanya bagian dari solusi. David juga memberikan contoh tentang system lain yang telah dikembangkan di asia pacific dan menekankan bahwa satu system yang berhasil di tempat lain belum tentu akan berhasil di tempat lain.

Panelis keempat adalah Presiden Direktur perusahaan taksi Blue Bird, Noni Sri Ayati Purnomo. Ayati menyampaikan pernyataan menarik mengenai kesetujuannya bahwa taxi pun bukan solusi kemacetan, namun hanya bagian dari solusi (part of the solution). Untuk itu Blue Bird juga telah mendorong penggunaan bis-bisnya untuk menjadi bis sekolah misalkan sehingga mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang digunakan. Blue Bird juga mengembangkan aplikasi yang memudahkan pengguna memesan taksi di satu sisi dan pada sisi yang lain taxi tidak terlalu banyak berkeliaran di jalan tanpa penumpang yang dapat menambah kemacetan. Ayati juga percaya bahwa Jakarta memerlukan system transportasi yang nyaman, bisa dipercaya dan terpadu.

Narasumber terakhir adalah Jianping Wu, seorang professor dan Direktur Future Transport dari Tsinghua University. Menurutnya transportasi umum haruslah memiliki konsep hijau/green concept (low carbon transport) dan pandai/smart concept (dengan sumberdaya dan teknologi pintar). Sebuah kota sebesar Jakarta, menurutnya harus memiliki sebuah system transportasi umum yang beragam bentuknya seperti MRT, kereta api, bus dan yang terpenting adalah harus terpadu dan menghubungkan semua titik penting dalam kota.

Diskusi menarik selama panel berkisar pada topik-topik seperti perlunya keterbukaan data antara pemerintah dan perusahaan taksi seperti Blue Bird sehingga mereka bisa bekerja sama untuk memperbaiki system tranportasi Jakarta. Selain itu Azharuddin memberikan pernyataan menarik bahwa kota akan mengalami transformasi dengan berkembangnya system transportasi. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan masyarakatnya (the people); perubahan dalam gaya hidup (the life style) ketika semua stasiun dan terminal memiliki pertokoan misalkan; kemudian kota (the city) juga akan berubah karena system transportasi mendorong pengembangan kota.

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.