RagamKota – Perbedaan sebagai aset kota

Pada hari kedua acara New Cities Summit diramaikan oleh panel dalam forum bertema Divercity : Difference as an urban asset dengan empat narasumber yang berasal dari Amerika, Jepang dan Indonesia. Hiro Ichikawa adalah Eksekutif Direktur dari Mori Memorial Foundation, Meiji University Jepang. Hiro menjelaskan lebih jauh mengenai Global Power City Index (GPCI) yang menilai kota-kota besar di dunia berdasar kemampuan mereka untuk menarik orang-orang dan bisnis kreatif dari seluruh dunia. Empat puluh kota besar dinilai berdasar 70 indikator dalam enam fungsi utama yaitu Ekonomi, R&D, Interaksi budaya; lingkungan; 'Livability'; dan Aksesibilitas. Menurut GPCI lima kota tertinggi dalam indeks ini adalah London, New York, Paris, Tokyo dan Singapore.

Rose Broome adalah pendiri HandUp yang membawa misi sosial dengan memanfaatkan teknologi. Dalam forum ini Rose membahas mengenai peran teknologi untuk memecahkan masalah dalam masyarakat yang multicultural. Menurutnya ada keterkaitan erat antara keragaman (diversity) dan kemiskinan (poverty) seperti yang banyak terjadi di San Francisco. Namun demikian banyak inovasi baru seperti kolega Rose yang mengibah bis-bis bekas menjadi kamar mandi dan toilet umum untuk para tunawisma yang jumlahnya mencapai 7.000 orang di San Francisco.

Michael Kokora merupakan narasumber dari OMA yang mendiskusikan lebih jauh mengenai resilient city dan bagaimana kota mampu menemukan kenyamanan dalam keberagaman. Michael juga mengemukakan isu mengenai identitas di dalam dunia yang multicultural ini serta keterkaitan antara keragaman (diversity) dan ketimpangan (inequality). Micahel dengan jelas berpendapat bahwa menurutnya Jakarta memiliki sangat sedikit ruang publik dan ketimpangan terlihat jelas.

Paulus Wirutomo adalah seornag sosiolog dari Universitas Indonesia. Menanggapi pernyataan Michael, Paulus berpendapat serupa bahwa Jakarta memiliki apa yang disebut dengan keragaman vertikal (vertical diversity) yang terkait dengan ekonomi dan keragaman horizontal (horizontal diversity) berupa keragaman adat, nilai, norma, maupun agama. Adanya keragaman ini memang cenderung memicu konflik. Dalam salah satu penelitiannya mengenai Tawuran di kampung-kampung Jakarta lebih banyak disebabkan karena ketimpangan ekonomi. Chaos atau kekacauan yang ada menunjukkan bahwa sebenarnya Jakarta belum mampu mengelola keberagaman.

Diskusi banyak berkisar pada bagaimana Jakarta mengelola keberagaman. Michael mencontohkan bahwa singapura memiliki konsep yang jelas bagaimana Singapura mengelola keragaman yaitu dengan mewajibkan semua warganya menggunakan bahasa inggris dan wajib militer. Paulus berargumen bahwa Jakarta belum memiliki ide yang jelas untuk itu karena kekacauan yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan tapi juga pengucilan sosial (social exclusion) dan tumbuhnya budaya kekerasan (culture of violence) akhir-akhir ini. Sedangkan Hiro menyatakan bahwa chaos atau kekacauan sebenarnya dapat diminimalisir melalui apa yang disebut controlled city seperti yang terjadi di Tokyo di masa lalu dimana Negara/kota memiliki peran penting dan kekuasaan untuk mencegah terjadinya kekerasan. Karenanya meski keberagaman nampak menakutkan namun hal ini juga bisa dianggap awal dari kolaborasi dan memunculkan kompetisi dalam inovasi untuk perbaikan perkotaan.

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.