Jakarta Menuju "Equitable City"

Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta, 3 June 2016

Deden Rukmana adalah Associate Professor dan Koordinator Urban Studies and Planning di Savannah State University, USA. Beliau sudah menerbitkan berbagai publikasi di dalam dan luar negeri. Salah satu Jurnal terbaru berjudul The Change and Transformation of Indonesian Spatial Planning after Suharto’s New Order Regime: The Case of the Jakarta Metropolitan Area. Blog aktifnya adalah Indoensia’s Urban Studies. Simak wawancara dengan beliau mengenai Konsep Equitable City di Jakarta.

Menurut anda, apa definisi Equitable City?

Equitable city sama dengan City for All. Kota untuk semua, bukan hanya sebagian orang. Jika kita meletakkannya dalam sebuah ekuilibrium pasar tanpa intervensi maka hanya orang-orang tertentu yang mampu mengakses kota, yaitu mereka yang dekat dengan kekuasaan dan modal. Sementara itu minoritas di kota tidak memiliki akses sebab privilege hanya milik mereka dengan akses. Pada intinya Equitable City memastikan semua punya kesempatan danakses yang sama untuk pelayanan dan perbaikan kota dan suara mereka terdengar (partisipasi aktif).

Apakah Jakarta sudah memenuhi kriteria sebagai Equitable City?

Tidak ada kota yang benar-benar equitable. Jakarta sedang menuju kesana. Ada beberapa hal yang saya catat dari pengalaman pribadi mengenai Jakarta misalnya belum ramah terhadap kelompok disable, terutama di busway dan bangunan publik. Kemudian etnis betawi juga mengalami gentrifikasi karena proses urbanisasi. Namun demikian saya mengapresiasi Jakarta yang memiliki perhatian terhadap keselamatan perempuan dengan membuat tempat khusus bagi perempuan di busway dan kereta.

Jakarta sudah berapa persen menjadi kota yang equitable?

Tidak ada kota yang 100 persen equitable. Semua sedang berproses. Untuk itu peran perencana kota penting. Dokumen perencanaan itu bukan barang mati tapi itu merupakan proses. Proses yang merencanakan bagaimana agar kota menjadi lebih inklusif bagi semua orang dan menjadikan orang sebagai komponen penting dalam pembangunan kota.

Partisipasi yang bagaimana yang mendorong Equitable City?

Ada formula menarik mendorong partisipasi. Masyarakat harus memiliki toleransi tinggi dan menghargai perbedaan. Hal ini akan mendorong proses inklusi dan hal ini akan memunculkan kepentingan yang sama. Barulah mereka akan bergerak bersama. Dengan ini komunitas akan bekerjas bersama untuk tujuan yang sama. Inilah partisipasi yang diinginkan.

Apa tantangan Jakarta untuk menjadi kota yang equitable?

Tantangannya banyak karena Jakarta merupakan pemerintahan, ekonomi, politik dan budaya. Hal ini menjadi faktor yang menarik orang datang ke Jakarta, sehingga tantangannya adalah bagaimana agar tidak terjadi proses gentrifikasi. Jangan sampai minoritas menjadi terpinggirkan. Tantangan kedua adalah bagaimana mensinergikan antara berbagai kelompok yang ada di wilayah kota. Sementara itu dari sisi pemerintah, tantangannya terkait penegakan hukum serte pelibatan media sebagai penyeimbang demokrasi. Saya kira,Jakarta sudah pada jalur yang tepat menuju Equitable City.

Jakarta sedang ramai mengenai reklamasi,apakah reklamasi mendorong terciptanya Equitable City?

Reklamasi ini yang jelas merupakan proses gentrifikasi terutama bagi nelayan-nelayan di daerah tersebut. Saya setuju jika reklamasi adalah bagian dari upaya penanggulangan banjir, keseimbangan ekologis atau peningkatan ekonomi masyarakat. Tapi kalau tujuannya untuk mengakomodir kepentingan property maka saya tidak setuju. Keseluruhan proses reklamasi ini perlu ditinjau ulang dan saat ini RT RW Jakarta juga sedang di lihat kembali.

Bagaimana dengan Jakarta Smart City? Apakah ini juga bagian equitable city?

Sebenarnya itu tergantung. Kebanyakan orang menganggap bahwa Smart city adalah melulu tentang ICT, padahal konsep Smart city sangat luas dan komprehensive. Namun saya setuju jika ICT menjadi bagian dari mewujudkan equitable city terutama ketika applikasi yang dihasilkan memberikan manfaat bagi semua. Misalnya ada aplikasi yang memastikan perempuan aman ketika berjalan di malam hari, atau aplikasi yang membuat informasi mengenai transportasi alternatif dapat diakses oleh public seperti aplikasi Apaja.

Photo: Ah Meng

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1606
Permalink to this post: http://urb.im/ca1606jki