Agenda Kota: Menjaga Keaslian Kota sebagai bagian dari Pembangunan yang Berkelanjutan

Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 13 October 2016

Prepcom 3 yang dilaksanakan di Surabaya bulan Juli 2016 merupakan upaya untuk merumuskan agenda pembangunan perkotaan berkelanjutan sebagai persiapan Konferensi Habitat III di Quito untuk memastikan ada standar yang harus dipenuhi bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan sampai 20 tahun mendatang dalam menjawab permasalahan di aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan disini memiliki wawasan lingkungan yang mengharuskan manusia mampu menjaga kualitas lingkungan dan menjaga keserasian alam dan manusia. Hal ini termasuk menjaga keaslian kota dan kampung-kampung yang ada di dalamnya. Menjaga keaslian kota dilakukan dengan melestarikan bangunan-bangunan bersejarah melalui penataan tanpa menggusur.

Penggusuran paksa sering menjadi alasan pemerintah untuk melakukan penataan kota. Banyak penggusuran tanpa melibatkan masyarakat terjadi yang akhirnya merugikan warga karena tidak adanya ganti rugi maupun lokasi pengganti yang jauh dari tempat kerja mereka. Seringkali yang menjadi penggusuran adalah bangunan yang memiliki nilai sejarah. Kota Surabaya sendiri merupakan salah satu kota di Indonesia dengan banyak bangunan bersejarah dengan berbagai peninggalan yang menjadi simbol sejarah awal Indonesia. Surabaya juga dikenal sebagai kota Pahlawan. Praktik baik yang telah dilakukan oleh pemerintah Surabaya adalah dikeluarkannya Peraturan Daerah Kota Surabaya No 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/Atau Lingkungan Cagar Budaya.

Pelestarian cagar budaya ini bertujuan untuk mempertahankan keaslian bangunan, memelihara dan melindungi bangunan dari kerusakan dan memanfaatkan bangunan sebagai kekayaan budaya. Sebelum dikeluarkannya peraturan ini, bangunan bersejarah di Surabaya banyak yang hancur dan hilang karena tersaingi oleh keberadaan bangunan modern sebagai dampak dari globalisasi. Menyadari hal ini pemerintah menginisiasi perda tersebut. Dalam implementasinya, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Wiwik Widayati, mengatakan selama melakukan inventarisasi cagar budaya berdasarkan laporan dari masyarakat yang peduli atau tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki perhatian lebih pada pelestarian cagar budaya. Pengawasan Cagar budaya telah dilakukan dengan merenovasi dan memperjelas berbagai peraturan teknis.

Upaya mempertahankan keaslian kota tetap dipertahankan hingga kini. Konservasi kawasan cagar budaya saat ini sedang giat dilakukan. Pada dasarnya konservasi dapat membantu pemerintah dalam hal pengembangan ekonomi yang artinya ketika cagar budaya telah dikelola dan dikonservasi akan menjadi daya tarik sendiri bagi turis asing maupun domestic sehingga dapat menjadi pemasukan tersendiri bagi daerah tersebut. Menurut DInas Kebudayaan dan Pariwisata, Kota Surabaya saat ini sudah memiliki sekitar 273 bangunan cagar budaya dengan beragam tipe yang perlu dikonservasi dan dikembangkan untuk menjaga sejarah Surabaya.

Sebagai salah satu perwujudan dari pembangunan berkelanjutan adalah pelestarian yang diikuti dengan pengelolaan cagar budaya dan menghidupkan kembali dengan cara yang baru. Tantangan pemerintah dalam menjaga keunikan cagar budaya, kemudian dikonservasi dan dilestarikan adalah minimnya pengetahuan masyarakat, pemilik bangunan, atau pemilik modal yang tidak memahami kriteria cagar budaya sehingga mereka sering melanggar prosedur pembangunan di kawasan cagar budaya sehingga pembongkaran dilakukan terlebih dahulu baru kemudian dilaporkan. Untuk itu sinergi pemerintah dan masyarakat sangat perlu sehingga pelestarian cagar budaya dapat dilakukan dan masyarakat memiliki ownership kuat terhadap wilayahnya.

Photo: BxHxTxCx

Permalink to this discussion: http://urb.im/c1610
Permalink to this post: http://urb.im/ca1610sui